Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Berawal dari Buat Topeng untuk Tari Topeng

Editor Content • Sabtu, 27 Mei 2023 | 18:11 WIB
PERSIAPAN KURBAN: Depo hewan ternak milik Muhtarom ini menyediakan puluhan kambing maupun domba untuk Idul Adha. Dia tidak menyediakan sapi atau kerbau lantaran ragu dengan banyaknya kasus PMK.(Naila Nihayah/Radar Jogja)
PERSIAPAN KURBAN: Depo hewan ternak milik Muhtarom ini menyediakan puluhan kambing maupun domba untuk Idul Adha. Dia tidak menyediakan sapi atau kerbau lantaran ragu dengan banyaknya kasus PMK.(Naila Nihayah/Radar Jogja)

 

RADAR JOGJA – Dusun Krebet, Kalurahan Sendangsari, Kapanewon Pajangan, Bantul, dikenal menjadi penghasil kerajinan batik kayu yang khas. Bahkan terkenal di banyak daerah hingga ke luar negeri. Namun, adakah yang tahu bagaimana awal mulai Dusun Krebet bisa menjadi seperti sekarang?

Saat hendak mengunjungi Dusun Krebet, selama perjalanan banyak melihat pohon-pohon jati di pinggir jalannya. Bahkan, pemandangan tersebut terus berlangsung hingga sampai di Dusun Krebet. Jalan menuju ke sana cukup menantang karena konturnya yang naik turun. Suasana di Dusun Krebet cukup tenang dan damai bagi masyarakat yang tinggal di perkotaan.

Di Dusun Krebet ini lah tempat lahirnya banyak pengrajin batik kayu sejak puluhan tahun lalu lamanya. Sepak terjangnya yang cukup lama membuat Dusun Krebet sekarang sangat terkenal sebagai penghasil kerajinan batik kayu. Bahkan saking terkenalnya banyak wisatawan yang datang tidak hanya untuk membeli kerajinan batik kayu.

Tetapi juga belajar membatik di Dusun Krebet dengan media kayu yang sudah diukir. Kepala Dusun Krebet, Kemiskidi menuturkan, awal mula daerahnya menjadi sentra pengrajin kayu batik karena keresahan warga sekitar. Ia bercerita, Dusun Krebet dulunya tanah yang tandus. Banyak penduduknya yang bercocok tanam atau bertani.

Profesi sebagai petani membuat banyak masyarakat Dusun Krebet hanya dapat bekerja ketika musim hujan saja. Ketika musim kemarau tiba, tentu tidak memiliki pekerjaan untuk dikerjakan. Kondisi itu membuat sebagian besar masyarakat Dusun Krebet tidak memiliki penghasilan kala musim kemarau tiba.

Sehingga jika musim kemarau kita harus ngirit untuk bagaimana hasil pertanian itu diirit-irit. “Lalu ada salah satu pemuda namanya Gunjar yang berfikir bagaimana supaya orang bisa kerja terus, dengan mengerjakan kerajinan atau apa," tutur Kemiskidi saat ditemui di rumahnya, Jumat (19/5).

Pada saat itu, Gunjar sebagai pelopor mengawali dengan membuat kerajinan batik kayu berupa topeng. Kala itu, Gunjar membuat topeng karena mendapat pesanan yang dibutuhkan untuk tari klasik dan juga tari topeng. Kemiskidi menyebutkan Gunjar mengawali pembuatan topeng itu pada medio 1980-an.

Kemiskidi mengatakan pada saat itu lah menjadi titik awal sekali Dusun Krebet menjadi seperti sekarang. Saat periode 1990-an, banyak warga Dusun Krebet yang semangat belajar membuat kerajinan. Lambat laun akhirnya banyak yang bisa menghasilkan kerajinan batik kayu. Kemiskidi menyebutkan puncaknya pada 2002 banyak pengunjung yang datang ke Dusun Krebet. Sekarang, kerajinan batik kayu dari Dusun Krebet menjadi buah tangan wajib untuk wisatawan yang sedang melancong ke DIJ."Di 1990-an banyak yang belajar karena banyak permintaan (pesanan), termasuk saya ada orderan pada waktu itu tidak hanya topeng tapi wayang klithik jumlah 1.000 biji," ungkapnya.

"Karena banyaknya pengunjung yang datang, dari (Pemkab) Bantul menyarankan bahwa Dusun Krebet pantas jadi desa wisata untuk dikunjungi untuk melihat proses pembuatan kerajinan itu sendiri," tambah Kemiskidi.

Dusun Krebet menghasilkan kerajinan batik kayu yang bermacam-macam rupannya. Baik itu perabotan rumah tangga ataupun wayang atau topeng sebagai hiasan. Selain itu, pengrajin batik kayu Dusun Krebet juga menghasilkan berbagai jenis souvenir seperti gantungan kunci dan lainnya. Para pengrajin batik kayu di Dusun Krebet biasanya menggunakan kayu sengon dan kayu jenetri sebagai bahan dasar pembuatan kerajinan.

Sebelum pandemi Covid-19 melanda Indonesia, pengrajin batik kayu Dusun Krebet kebanjiran pesanan. Hal itu membuat ekonomi masyarakat sekitar menjadi terangkat tentunya. Kondisi tersebut sempat terhenti ketika pandemi Covid-19 menerjang Indonesia.

Tetapi, seiring berjalannya waktu, kata Kemiskidi, sekarang penjualan kerajinan batik kayu mulai bangkit. Batik kayu yang sempat sepi pembeli sekarang mulai kembali menggeliat lagi. "Konsumen biasanya dari kota-kota besar seperti Jakarta ada, Bali dan kota besar lain di Indonesia. Tapi ada juga kerja sama dengan eksportir sehingga diekspor ke luar negeri," ucap Kemiskidi.

Retno salah satu pengrajin batik kayu yang sudah menggeluti sejak 1989 merupakan generasi kedua karena meneruskan usaha orang tuanya. Sanggar Peni menjadi wadah usaha Retno menghasilkan kerajinan batik kayu. Ia mengaku kerajinan batik kayu yang dihasilkannya sudah laku secara nasional di internasional. Menurutnya, mayoritas pembeli kerajinan batik kayu Sanggar Peni itu untuk dijual kembali sebagai buah tangan meski ada juga yang untuk kebutuhan pribadi. Namun, ada juga pembeli yang memesan untuk kebutuhan souvenir kegiatan atau acara secara kolektif. "Kalau pasarnya, jika lokal Jabodetabek, Bali, dan Jogja itu sendiri. Luar negeri juga ada, seperti Kanada dan Australia, harga ongkos kirim lebih mahal dibanding harga barangnya," katanya. (cr3/pra)

Editor : Editor Content
#Bantul