Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

CPMH UGM Sebut 3,7 Persen Anak Usia Remaja Menderita Gangguan Kecemasan  

Gunawan RaJa • Rabu, 14 Agustus 2024 | 02:55 WIB

 

Manager Center for Public Mental Health Universitas Gadjah Mada (CPMH-UGM) Nurul Kusuma Hidayati.
Manager Center for Public Mental Health Universitas Gadjah Mada (CPMH-UGM) Nurul Kusuma Hidayati.

SLEMAN - Total dari 20 persen penduduk usia remaja, sebanyak 3,7 persennya menderita gangguan kecemasan. Data ini terekam dalam survei Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS).

 "Memang tidak bicara spesifik Jogjakarta, tapi dari situ kita bisa melihat potret siswa remaja secara umum yang mengalami masalah kesehatan mental," ucap Manager Center for Public Mental Health Universitas Gadjah Mada (CPMH-UGM) Nurul Kusuma Hidayati kemarin (13/8).

Survei kesehatan mental nasional, lanjutnya, mengukur angka kejadian gangguan mental pada remaja usia 10-17 tahun. Hasil dari survei I-NAMHS pascapandemi Covid-19, menunjukkan satu dari tiga remaja Indonesia memiliki masalah kesehatan mental.

"Berbagai masalah kesehatan mental jika tidak ditangani dengan baik atau dibiarkan berlarut-larut dapat menjelma menjadi gangguan mental," bebernya.

Menurutnya, anak usia remaja memiliki tingkat kerentanan yang tinggi untuk mengalami masalah kesehatan mental. Individu dengan masalah kesehatan mental mempunyai kerentanan untuk kemudian mengalami gangguan mental. Sebab dari data yang sama, satu dari dua puluh remaja Indonesia memiliki gangguan mental.

"Hasil penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa gangguan mental paling banyak diderita usia remaja adalah gangguan kecemasan," ungkapnya.

Merupakan gabungan antara fobia sosial dan gangguan cemas menyeluruh, besarannya mencapai 3,7 persen. Diikuti gangguan depresi mayor 1 persen, gangguan perilaku 0,9 persen, serta gangguan stres pasca-trauma (PTSD) dan gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (ADHD) masing-masing sebesar 0,5 persen. "Persoalan ini menjadi pekerjaan rumah kita bersama," ungkapnya.

Tidak hanya menjadi tanggung jawab dinas atau instansi terkait, namun juga keluarga. Sebab kesehatan jiwa sama pentingnya dengan kesehatan fisik. "Kalau kesehatan jiwa diabaikan, maka kita akan melihat kerentanan untuk bermasalah secara kejiwaan pada anak-anak kita akan meningkat pesat," tegasnya.

Kerentanan itu, akan semakin meningkat bagi anak usia sekolah. Padahal permasalahan kesehatan jiwa kalau tidak segera ditangani akan jebol menjadi gangguan jiwa. "Jadi, penting sekali kesehatan mental bagi anak usia sekolah untuk diperhatikan," ungkapnya. (gun/eno) 

 

Editor : Satria Pradika
#UGM #gangguan kecemasan #kesehatan mental