Banyak Sarjana Menganggur, Zuly Qodir Sebut Dampak Ketidakseimbangan Lulusan dan Daya Serap Pasar

Aris Romadhon • Dipublikasikan Kamis, 24 September 2026 | 21:30 WIB
Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Kemahasiswaan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Zuly Qodir. (Aris Romadhon/Radar Jogja)
Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Kemahasiswaan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Zuly Qodir. (Aris Romadhon/Radar Jogja)

BANTUL - Jumlah lulusan perguruan tinggi terus bertambah, tetapi tidak sebanding dengan daya serap lapangan kerja. Kondisi tersebut membuat sebagian sarjana tetap kesulitan mendapatkan pekerjaan meski telah memiliki pendidikan dan keterampilan.

Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Kemahasiswaan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Zuly Qodir mengatakan, persoalan tersebut tidak bisa hanya dibebankan kepada perguruan tinggi. Kampus perlu menyiapkan lulusan sesuai kebutuhan dunia kerja, sementara pemerintah dan sektor swasta harus memperluas lapangan pekerjaan.

“Harus dua-duanya. Perguruan tinggi memperbaiki kualitas SDM-nya, pemerintah menyediakan lapangannya bersama swasta,” ujar Zuly Kamis (24/9).

Baca Juga: Mantu Kiai di Ponpes Sleman Disebut Ancam Korban Pemerkosaan Pakai Dalil Nikah Siri

Menurutnya, ketimpangan terjadi ketika jumlah lulusan jauh lebih banyak dibanding kebutuhan tenaga kerja. Dia mencontohkan, dalam satu tahun bisa terdapat lebih dari 500 lulusan bidang keuangan, sementara sebuah perusahaan hanya membutuhkan sekitar 10 orang. “Berarti diambil sepuluh orang, maka sekitar 490 menjadi penganggur,” jelasnya.

Karena itu, perguruan tinggi dinilai perlu menyesuaikan pendidikan dengan kebutuhan masyarakat dan dunia kerja. Pengetahuan dan keterampilan yang diberikan kepada mahasiswa tidak boleh terlalu jauh dari kebutuhan lapangan.

Di sisi lain, pemerintah dan dunia usaha juga perlu memperluas penyerapan tenaga kerja. Upaya tersebut dapat dilakukan melalui lembaga pemerintah, BUMN, maupun pengembangan sektor swasta.

Baca Juga: Chelsea Pantau Bek Muda Real Sociedad, Siap Rogoh Rp900 Miliar pada Januari

UMY sendiri mulai menyesuaikan materi dan orientasi perkuliahan dengan perkembangan kebutuhan dunia kerja. Mahasiswa juga dibekali keterampilan tambahan, mulai kecerdasan buatan (AI), bahasa asing, komunikasi, public speaking, hingga negosiasi.

Selain itu, UMY menyediakan mata kuliah kewirausahaan yang melibatkan praktisi. Jalur pembelajaran juga disesuaikan dengan orientasi mahasiswa, baik yang ingin melanjutkan studi maupun memasuki dunia kerja.  

Zuly menegaskan, persoalan penyerapan lulusan membutuhkan langkah dari berbagai pihak. Perguruan tinggi harus meningkatkan kualitas dan relevansi lulusan, sedangkan pemerintah bersama dunia usaha perlu memperluas ruang kerja.

“Kita selalu melihat kebutuhan pasar, kita selalu melihat dinamika yang terjadi, dan apabila ada dinamika yang terjadi, segera kita melakukan perubahan,” pungkasnya. (cr2/eno)

Editor : Sevtia Eka Novarita
Zuly Qodir sarjana pengangguran lapangan kerja Lulusan