Dikhawatirkan Timbulkan Trauma, Enam Mahasiswa Luka-Luka Saat Aksi di Simpang Empat Gramedia Jogja 

Cintia Yuliani • Dipublikasikan Rabu, 2 September 2026 | 17:39 WIB
Wakil Rektor UGM Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Alumni Arie Sujito memberikan pernyataan mengenai mahasiswa UGM yang alami luka saat aksi unjuk rasa. (Cintia Yuliani/Radar Jogja) 
Wakil Rektor UGM Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Alumni Arie Sujito memberikan pernyataan mengenai mahasiswa UGM yang alami luka saat aksi unjuk rasa. (Cintia Yuliani/Radar Jogja) 

 JOGJA - Sebanyak enam mahasiswa mengalami luka-luka dalam aksi unjuk rasa di Jalan Simpang Empat Gramedia, Selasa (1/9) malam. Lima mahasiswa di antaranya berasal dari Universitas Gadjah Mada (UGM), sedangkan satu mahasiswa lainnya dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).

Direktur Kemahasiswaan UGM Hempri Suyatna mengatakan, keenam mahasiswa mengalami sejumlah luka, seperti kaki dan tangan lebam, memar, hingga sesak napas. Kondisi tersebut juga dikhawatirkan menimbulkan trauma bagi mahasiswa.

"Atas nama kemanusiaan, atas nama demokrasi, atas nama institusi juga, kekerasan tidak dibenarkan," jelasnya saat jumpa pers di UGM, Rabu (2/9).

Hempri mengatakan, seluruh mahasiswa yang menjalani perawatan di Rumah Sakit Panti Rapih telah diperbolehkan pulang sekitar pukul 00.30. Berdasarkan kondisi yang dilihat pihak kampus, beberapa mahasiswa diduga mengalami luka akibat pukulan, tendangan, maupun benturan siku.

"Provokasi itu memang terjadi,” tuturnya.

Baca Juga: Curi Kabel Tower XL Smart, Dua Warga Semanu Gunungkidul Ditangkap Polisi

Hempri yang berada langsung di lokasi aksi mengatakan, sekitar pukul 19.00 terjadi sejumlah provokasi. Kondisi tersebut sempat membuat orasi mahasiswa terhenti dan terjadi sedikit kericuhan. Namun, sekitar pukul 19.20 situasi kembali normal.

Sekitar pukul 20.00 para mahasiswa bahkan masih bernyanyi bersama di lokasi aksi. Namun, sekitar pukul 22.00 terjadi pemukulan yang membuat mahasiswa mundur dan berupaya kembali ke rumah masing-masing. Kondisi tersebut kemudian kembali terlihat kacau.

"Jadi kalau yang jelas, karena terjadi secara tiba-tiba, ada kelompok-kelompok masyarakat mungkin memukul mereka dan kemudian ngebuat luka-luka itu," terangnya.

Terkait penggunaan semprotan merica, Hempri mengatakan terdapat mahasiswa yang terkena semprotan tersebut, baik pada awal maupun akhir aksi. 

Baca Juga: Prediksi Osnabruck vs Bayern Munich DFB Pokal, The Bavarians Unggul Segala Lini

Mengenai waktu berakhirnya aksi, Hempri menjelaskan masih terdapat sejumlah tuntutan mahasiswa yang belum mendapatkan jawaban konkret. Sebelumnya, mahasiswa juga sempat melakukan negosiasi dengan pihak kepolisian.

"Sehingga yang saya kira juga menjadi pemicu awal ya ketika kemarin akhirnya muncul hal-hal yang mungkin tidak kita inginkan kemarin,” tuturnya.

Terkait kekerasan yang dialami mahasiswa, Hempri mengatakan pihak kampus tengah mempersiapkan langkah lebih lanjut.

Hempri berharap kepolisian dapat memberikan perlindungan kepada mahasiswa dan memastikan tidak terjadi kekerasan serupa. Ia juga mendorong mahasiswa untuk mempertimbangkan menempuh proses hukum agar persoalan tersebut dapat diselesaikan melalui jalur yang sesuai dengan norma hukum.

Menurutnya, pembiaran terhadap kekerasan dapat menjadi preseden buruk dan berpotensi mengancam siapa pun. Oleh karena itu, ia menegaskan tidak ada toleransi terhadap praktik kekerasan.

Baca Juga: Tujuh Kambing Mati di Alas Dawut Tepus Gunungkidul, Ada Bekas Gigitan Diduga Diserang Hewan Liar

Sementara itu, Wakil Rektor UGM Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Alumni Arie Sujito menyampaikan keprihatinan atas kekerasan yang menimpa mahasiswa saat aksi demonstrasi.

Menurut Arie, terdapat sejumlah kelompok orang yang melakukan tindakan kekerasan terhadap mahasiswa. Ia menilai aparat kepolisian memiliki tanggung jawab untuk melindungi mahasiswa maupun masyarakat yang berada di lokasi aksi.

"Dari situ ada aparat kepolisian yang punya tanggung jawab untuk melindungi mahasiswa maupun masyarakat,” katanya.

Arie menilai penanganan terhadap kejadian tersebut merupakan bagian dari tanggung jawab yang harus dilakukan secara hukum. Ia juga menekankan pentingnya mencegah mahasiswa berhadapan dengan kelompok-kelompok masyarakat.

"Saya yakin kita punya idealisme, punya komitmen dan mahasiswa itu menyuarakan pemikiran, aspirasinya," terangnya.

Baca Juga: Huistra Tak Gentar Hadapi Bali United di Laga Perdana Super League

Menurut Arie, aksi mahasiswa merupakan bentuk respons kritis terhadap situasi yang terjadi di berbagai daerah, baik dalam konteks nasional maupun daerah. Aspirasi tersebut disampaikan melalui berbagai saluran, termasuk media massa dan media sosial.

Oleh karena itu, ia menilai upaya memperhadapkan mahasiswa dengan kelompok masyarakat tidak semestinya dilakukan. Menurutnya, tindakan kekerasan justru akan merugikan banyak pihak.

Arie juga berharap situasi krisis ekonomi dan politik tidak berkembang menjadi tindakan teror. Menurutnya, pemerintah perlu merespons kondisi tersebut dengan melakukan perbaikan kebijakan.

Ia menegaskan setiap warga memiliki hak untuk menyampaikan aspirasi. Di sisi lain, pembinaan dan perlindungan terhadap mahasiswa di lingkungan kampus juga perlu terus diperkuat agar mahasiswa sebagai elemen intelektual dapat menyampaikan aspirasi secara aman.

"Tindakan kekerasan apapun yang dilakukan, jelas tidak dibenarkan," tegasnya. (cin)

Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : Radar Jogja
Unjuk Arie sudjito Hempri rasa aksi