Maba UIN Sunan Kalijaga Diajak Suarakan Kritik pada Pemerintah saat PBAK di Kampus

Delima Purnamasari • Dipublikasikan Minggu, 23 Agustus 2026 | 22:00 WIB
KOMPAK: Pernyataan sikap Dema UIN Sunan Kalijaga bersama mahasiswa baru saat Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK), Jumat (21/8). (Dokumentasi pribadi)
KOMPAK: Pernyataan sikap Dema UIN Sunan Kalijaga bersama mahasiswa baru saat Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK), Jumat (21/8). (Dokumentasi pribadi)

SLEMAN - Sejumlah mahasiswa baru (maba) UIN Sunan Kalijaga diajak menyuarakan kritik terhadap pemerintah melalui pernyataan sikap dan pembentangan spanduk protes saat Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK), Jumat (21/8). Aksi sempat memanas setelah terjadi perebutan spanduk antara mahasiswa dan petugas keamanan.

Spanduk yang dibawa mahasiswa memuat sejumlah tuntutan. Di antaranya “Tolak Komersialisasi Pendidikan”, “Sahkan RUU Perampasan Aset”, serta “Tegakkan Supremasi Sipil, TNI Kembali ke Barak”. Aksi tersebut disebut sebagai bentuk pengingat terhadap tuntutan rakyat 17+8 yang digaungkan pada Agustus 2025.

Baca Juga: Praperadilan Jadi Bahan Evaluasi Dinar Kripsiaji, Fokus Petakan Kasus Dana Hibah Pariwisata

Ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) UIN Sunan Kalijaga 2026 Diaz Habibie mengatakan, aksi tersebut berlangsung saat DEMA mendapat ruang untuk menyampaikan orasi dalam rangkaian PBAK. “Momen Agustus ini untuk memperingati demo besar tahun lalu. Sekaligus tuntutan 17+8 yang kami rasa belum sepenuhnya dipenuhi,” kata Diaz saat dihubungi melalui sambungan telepon Minggu (23/8).

Menurut Diaz, momentum PBAK juga dimanfaatkan sebagai sarana pendidikan politik bagi mahasiswa baru. DEMA ingin memperkenalkan mahasiswa pada ruang partisipasi publik sekaligus membangun kesadaran mengenai isu-isu yang dinilai perlu disuarakan.

Baca Juga: Modus Penggunaan Resep Berulang Sering Muncul, IAI Sleman Lakukan Skrining Pembelian OOT

Dia menegaskan, aksi tersebut menjadi pesan bahwa gerakan mahasiswa masih dapat dilakukan secara organik. Mahasiswa juga dinilai tetap memiliki ruang untuk menyampaikan keresahan terhadap berbagai persoalan yang berkembang. “Mahasiswa masih bisa melakukan gerakan secara organik. Ini bukti bahwa kami itu bukan antek-antek asing,” tegasnya.

Diaz membenarkan sempat terjadi perebutan spanduk yang dibawa mahasiswa dengan petugas keamanan. Namun, DEMA kemudian menginstruksikan mahasiswa agar tidak melakukan perebutan kembali untuk mencegah situasi berkembang menjadi kericuhan.

“Kami tidak ingin mengganggu jalannya acara agar adik-adik tetap senang, tetapi agenda gerakan juga tetap terlaksana,” jelasnya.

Baca Juga: Kisah Tukang Becak Desil 9, Kini Bingung Sekolahkan Anaknya karena Dianggap Mampu

Dia menjelaskan, agenda penyampaian aspirasi sebenarnya telah masuk dalam susunan acara. Hanya saja, mekanisme pelaksanaannya mengalami perubahan.

Aksi tersebut, lanjut Diaz, bukan menjadi akhir dari gerakan mahasiswa UIN Sunan Kalijaga. DEMA berencana melakukan konsolidasi untuk membaca perkembangan situasi sekaligus menghimpun berbagai keresahan terkait persoalan terkini. “27 Agustus itu kawan-kawan Pati mau turun ke Jakarta, kami akan melakukan pembacaan situasi,” ujarnya. (del/eno)

Editor : Sevtia Eka Novarita
mahasiswa baru (maba) Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) UIN Sunan Kalijaga Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga kritik