Wakil Rektor Bidang Mutu, Reputasi, dan Kemitraan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Slamet Riyadi (kiri) sedang memaparkan materi. (Cintia Yuliani/Radar Jogja)
BANTUL - Pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) di bidang kesehatan terus berkembang dan dinilai mampu meningkatkan kualitas layanan medis. Meski demikian, penerapannya harus dilakukan secara bertanggung jawab dengan tetap mengedepankan keselamatan pasien serta peran tenaga kesehatan.
Wakil Rektor Bidang Mutu, Reputasi, dan Kemitraan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Slamet Riyadi mengatakan, AI bukan bertujuan menggantikan tenaga medis, melainkan menjadi teknologi pendukung untuk membantu proses pengambilan keputusan klinis.
"AI memiliki potensi besar untuk meningkatkan pelayanan kesehatan," ujarnya saat acara International Conference UMY Rabu (5/8).
Namun, penggunaannya harus tetap menempatkan manusia sebagai pengambil keputusan utama. Teknologi ini berfungsi membantu dokter dan tenaga kesehatan agar pelayanan menjadi lebih cepat, tepat, dan efisien.
Ia menjelaskan, AI mencakup berbagai teknologi, di antaranya machine learning dan deep learning. Machine learning yakni sistem mempelajari pola dari data pasien, seperti tekanan darah, hasil pemeriksaan laboratorium, maupun riwayat penyakit, untuk membantu memprediksi risiko kesehatan. Sementara deep learning memanfaatkan jaringan saraf tiruan yang mampu mengolah data kompleks, seperti citra radiologi, rekaman elektrokardiogram (EKG), hingga sinyal fisiologis lainnya.
Menurutnya, pengembangan AI diawali dengan menentukan permasalahan yang ingin diselesaikan, kemudian dilanjutkan dengan pengumpulan dan pengolahan data, pemilihan model, pelatihan, validasi, hingga implementasi. Setelah diterapkan, performa sistem tetap harus dievaluasi secara berkala karena karakteristik pasien, kualitas data, maupun praktik klinis dapat berubah.
AI juga dinilai mampu membantu mengatasi berbagai tantangan layanan kesehatan. Di antaranya mempercepat interpretasi hasil radiologi, membantu penyusunan rencana radioterapi, mendeteksi potensi interaksi obat, hingga mengurangi beban administrasi tenaga kesehatan melalui otomatisasi dokumentasi klinis.
Teknologi tersebut juga dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan akses layanan kesehatan, terutama di daerah yang masih kekurangan tenaga medis maupun dokter spesialis.
"Dengan demikian, pelayanan kepada masyarakat dapat menjadi lebih merata," katanya.
Selain pelayanan klinis, AI berperan dalam mendukung penelitian kesehatan melalui analisis data biologis dalam jumlah besar, identifikasi pola penyakit, hingga membantu pengembangan terapi baru.
Meski menawarkan banyak manfaat, Slamet mengingatkan bahwa keberhasilan penerapan AI tidak hanya diukur dari tingginya akurasi model. Evaluasi juga harus mempertimbangkan dampaknya terhadap keselamatan pasien, kemudahan penggunaan oleh tenaga kesehatan, efisiensi operasional, serta manfaat klinis yang dihasilkan.
"Yang paling penting bukan sekadar menghasilkan model dengan akurasi tinggi, tetapi memastikan AI benar-benar memberikan manfaat bagi pasien," tegasnya.
Ia berharap pengembangan AI di Indonesia terus didorong melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, rumah sakit, pemerintah, dan industri sehingga inovasi yang dihasilkan tidak hanya canggih secara teknologi. "Tetapi juga relevan dengan kebutuhan masyarakat serta memenuhi aspek etika dan regulasi di bidang kesehatan," pungkasnya. (cin)