Dosen Teknik Mesin, Universitas Tidar (Untidar) Prof Suyitno tercatat masuk dalam 5 persen ilmuwan terbaik dunia versi Global Scientist Index 2025. Dalam pemeringkatan tersebut, Suyitno menempati posisi ke-825.650 dari sekitar 10 juta ilmuwan yang terindeks secara global.
Peringkat ini menempatkannya dalam kelompok peneliti dengan kinerja di atas rata-rata dunia, baik dari sisi produktivitas maupun dampak ilmiah. "Pengakuan ini tentu menjadi motivasi bagi saya untuk terus berkarya," ujarnya, Minggu (5/7).
Global Scientist Index sendiri disusun berdasarkan analisis bibliometrik terhadap lebih dari 10 juta profil penulis dan 50 juta publikasi ilmiah. Penilaian dilakukan menggunakan indikator Normalized Composite Score (NCS), yang menggabungkan jumlah publikasi dengan tingkat sitasi sebagai ukuran pengaruh riset.
Capaian ini, lanjut dia, tidak datang secara instan. Suyitno yang saat ini juga menjabat sebagai Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kerja Sama Untidar, telah lama menekuni bidang teknik material dan metalurgi.
Suyitno menyebut, perjalanan riset yang dijalani tidak selalu mulus. Keterbatasan fasilitas dan akses di awal karier menjadi tantangan tersendiri, terutama ketika harus bersaing di level internasional. "Tapi saya percaya, konsistensi dalam meneliti dan membangun jejaring itu kunci," terangnya.
Dalam perjalanan akademik, dia aktif berkolaborasi dengan berbagai ilmuwan dari luar negeri. Hingga kini, karya ilmiahnya telah disitasi sekitar 3.700 kali.
Baca Juga: Tak Terkalahkan dalam 34 Pertandingan, Maroko Layak Menjadi Kandidat Juara Piala Dunia?
Satu kontribusi pentingnya adalah pengembangan persamaan Suyitno-Kool-Katgerman (SKK), yang digunakan untuk memprediksi retak panas dalam proses pengecoran logam. Temuan ini menjadi satu rujukan dalam studi material dan proses manufaktur logam.
"Riset bagi saya tidak hanya berhenti pada publikasi. Bagaimana hasil penelitian itu bisa digunakan dan memberi manfaat nyata, itu yang selalu saya dorong," ujar Suyitno.
Tidak hanya berfokus pada publikasi ilmiah, dia juga aktif menghasilkan inovasi terapan. Suyitno tercatat memiliki belasan desain industri, paten, hingga paten granted.
Baca Juga: Baru Dua Bulan Pindah, Pemuda asal Surabaya Ditemukan Meninggal di Gunungkidul
Beberapa di antaranya meliputi pengembangan rangka sepeda tiga komponen, implan tulang belakang modular, kaki palsu, hingga respirator.
Di tengah capaian tersebut, Suyitno menekankan pentingnya membangun budaya riset yang kuat di lingkungan perguruan tinggi. "Jangan takut mempublikasikan karya, karena dari situlah kita bisa dikenal dan diakui secara global," tegasnya. (pra)
Editor : Heru Pratomo