Hadapi Disrupsi Teknologi, ISI Jogjakarta Dorong AI Jadi Alat Bantu Seniman
Cintia Yuliani• Rabu, 17 Juni 2026 | 21:45 WIB
Rektor ISI Jogjakarta Irwandi sedang memberikan sambutan saat acara seminar Rabu (17/6). (Cintia Yuliani/Radar Jogja)
BANTUL - Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) menjadi perhatian serius Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta. Isu tersebut dibahas dalam Seminar Nasional Dies Natalis ke-42 ISI Jogjakarta dengan tema Dialektika Seni dan Artificial Intelligence dalam Rekonstruksi Nilai Estetika yang digelar di Concert Hall ISI Jogjakarta Rabu (17/6).
Rektor ISI Jogjakarta Irwandi menegaskan, AI tidak dapat disamakan dengan karya yang dihasilkan manusia, termasuk dalam bidang seni. Namun, perkembangan teknologi tersebut tidak bisa dihindari sehingga perlu disikapi secara bijak. “Kami masih terus mencari cara bagaimana mengantisipasi AI. Dari kaca mata kami sebagai institusi riset, sudah mulai terasa AI mau tidak mau harus berada di dekat kita,” bebernya saat seminar di Concert Hall ISI Jogjakarta Rabu (17/6).
Menurutnya, seniman dan akademisi seni perlu memposisikan AI sebagai alat bantu dalam proses berkarya, bukan sebagai pengganti kreativitas manusia. ISI Jogjakarta masih meyakini karya manusia dan hasil yang dihasilkan mesin memiliki perbedaan mendasar.
“Belajar dari perkembangan teknologi, AI harus kita antisipasi. Kita masih meyakini bahwa hasil karya manusia dan mesin tidak bisa disamakan persis,” tegasnya.
Irwandi mencontohkan berbagai disrupsi teknologi yang pernah terjadi dalam sejarah. Mulai dari hadirnya fotografi yang mengubah dunia seni lukis hingga peralihan teknologi televisi analog ke digital. Menurutnya, penolakan terhadap perkembangan teknologi justru akan membuat seseorang tertinggal.
Oleh karena itu, lanjut dia, hal yang perlu dipikirkan saat ini bukanlah menolak AI, melainkan bagaimana teknologi tersebut dapat dimanfaatkan untuk membantu pekerjaan manusia, termasuk dalam proses penciptaan karya seni.
Saat ini ISI Jogjakarta memiliki 139 riset yang sedang berjalan. Sebagian besar penelitian tersebut masih berfokus pada bagaimana AI diposisikan sebagai alat bantu dalam berbagai bidang seni.
Dari jumlah tersebut, sekitar 10 penelitian secara khusus mengangkat keterkaitan antara seni dan AI. Topiknya mencakup aspek produksi karya, estetika, etika dan integritas karya seni, hingga inovasi dalam pedagogi atau metode pembelajaran.
“Kita sebagai kolektif harus memiliki kesadaran yang lebih kuat tentang AI,” tuturnya.
Selain itu, ISI Jogjakarta juga menjalin kerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk mengembangkan penelitian terkait seni dan AI. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu memberikan pencerahan sekaligus membuka peluang baru bagi institusi seni dalam menghadapi perkembangan teknologi.
“Ke depan mudah-mudahan kolaborasi ISI dan BRIN bisa terbangun lebih kuat sehingga mampu mengembangkan sektor AI dan seni secara kolaboratif untuk kemajuan bersama,” katanya.
Sementara itu, Kepala Organisasi Riset Elektronika dan Informatika BRIN Budi Prawara mengatakan, BRIN tidak hanya menjalankan riset internal. Tetapi juga membuka peluang kolaborasi bagi perguruan tinggi, lembaga pemerintah, hingga masyarakat umum.
“Misalnya masyarakat umum yang memiliki inovasi melalui program akar rumput dan membutuhkan dukungan BRIN bisa menyampaikan kepada kami,” ujarnya.
Menurut Budi, BRIN menyediakan berbagai bentuk fasilitasi, mulai dari pendanaan, mobilitas riset, hingga dukungan bagi dosen dan peneliti yang ingin melanjutkan studi magister maupun doktoral, baik di dalam maupun luar negeri.
“Selain memberikan fasilitas bagi para periset, kami juga menyediakan akses terhadap berbagai infrastruktur riset yang dimiliki BRIN,” katanya.
Ia menambahkan, seluruh pihak yang berkolaborasi dengan BRIN dapat memanfaatkan berbagai fasilitas penelitian yang tersedia melalui program-program yang dibuka setiap tahun.
Dalam paparannya, Budi menjelaskan bahwa teknologi pada dasarnya merupakan sarana atau alat yang diciptakan manusia untuk menyelesaikan persoalan secara praktis. AI sendiri merupakan cabang ilmu komputer yang berfokus pada pengembangan mesin maupun perangkat lunak yang mampu menjalankan berbagai tugas secara cerdas.
Menurutnya, AI tidak dapat berfungsi tanpa dukungan data. Sistem tersebut bekerja melalui proses pembelajaran dari data untuk melakukan penalaran, memecahkan masalah, memahami bahasa alami, hingga mengenali pola tertentu. “AI dapat berkembang karena adanya data yang dilatih menjadi sebuah aplikasi yang kemudian bisa dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan,” pungkasnya. (cin)