MAGELANG - Universitas Tidar (Untidar) mulai menerapkan pembelajaran daring mulai Mei 2026, terutama bagi mahasiswa semester akhir. Kebijakan ini diambil sebagai bentuk penyesuaian terhadap skema kerja fleksibel (WFH) yang mulai diberlakukan, tanpa mengganggu kegiatan akademik yang membutuhkan kehadiran langsung di kampus.
Rektor Untidar, Prof Sugiyarto mengutarakan, penerapan pembelajaran daring bukan bersifat menyeluruh. Melainkan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing program studi dan karakter mata kuliah. "Mulai Mei ini sudah berjalan. Kemarin sempat ditunda karena ujian tengah semester. Jadi sekarang kita sesuaikan dengan kondisi yang ada," ujarnya di Kampus Sidotopo, Rabu (29/4).
Baca Juga: Dijatah 16 Ribu Tiket, Polisi Izinkan Suporter PSS Sleman Beratribut Lengkap Masuk Stadion di Laga Lawan PSIS Semarang
Dia menyebut, kebijakan ini lebih diarahkan untuk mahasiswa di semester akhir yang umumnya mengambil mata kuliah pilihan atau tidak lagi padat dengan praktikum. Sementara untuk mahasiswa semester awal hingga semester empat, pembelajaran tetap diupayakan berlangsung secara tatap muka. "Yang semester awal diusahakan tetap luring. Kalau yang akhir-akhir itu lebih memungkinkan untuk daring," katanya.
Berbeda dengan sistem pembelajaran jarak jauh (PJJ) penuh seperti saat pandemi, skema yang diterapkan saat ini bersifat fleksibel. Pembelajaran daring dapat dilakukan satu kali dalam sepekan oleh dosen, menyesuaikan dengan jadwal WFH.
Dia menambahkan, pemerintah sebelumnya menganjurkan pelaksanaan WFH setiap hari Jumat. Namun, Untidar tidak menerapkan secara kaku dan memberikan keleluasaan kepada dosen untuk menentukan hari pelaksanaan daring. "Kalau dosen mengambil WFH di hari lain, misalnya Rabu, maka kuliah daring bisa dilakukan di hari itu. Tapi prinsipnya hanya satu kali dalam seminggu," jelas Sugiyarto.
Baca Juga: Antisipasi Kasus Daycare Terulang di Bantul, Tempat Penitipan Anak Wajib Perbarui Izin Tiga Tahun Sekali
Meski demikian, untuk mata kuliah yang membutuhkan kehadiran fisik seperti praktikum, kegiatan tetap dilaksanakan di kampus. Sebagian tenaga kependidikan juga masih dijadwalkan masuk pada hari Jumat untuk memastikan layanan akademik tetap berjalan.
Penerapan pembelajaran daring ini bukan hal baru bagi Untidar. Pengalaman selama pandemi menjadi bekal utama dalam menjalankan sistem tersebut. Dari sisi infrastruktur dan sistem, kampus dinilai sudah cukup siap. Namun, tantangan utama tetap berada pada efektivitas pembelajaran dan kualitas hasil belajar mahasiswa. "Kalau sistem sudah siap. Tapi kualitas tetap harus kita jaga dan evaluasi terus," bebernya.
Evaluasi selama masa pandemi menunjukkan bahwa pembelajaran daring memiliki sejumlah kelemahan. Terutama pada aspek komunikasi dan motivasi belajar mahasiswa.
Sugiyarto mengakui, keterbatasan interaksi langsung antara dosen dan mahasiswa berdampak pada penurunan semangat belajar. Hal ini bahkan memunculkan fenomena yang disebutnya sebagai 'generasi rebahan', yakni mahasiswa yang cenderung pasif selama mengikuti perkuliahan daring. "Masalah utamanya di motivasi dan komunikasi. Tidak ada interaksi langsung, itu berpengaruh pada semangat belajar," ucapnya.
Kondisi tersebut, lanjut dia, praktis menjadi tantangan tersendiri bagi dosen, yang harus bekerja lebih keras untuk menjaga keterlibatan mahasiswa dalam proses pembelajaran. Untuk mengantisipasi penurunan kualitas akademik, Untidar menyiapkan mekanisme monitoring dan evaluasi (monev) secara berkala. Lembaga Penjaminan Mutu dan Pengembangan Pembelajaran (LPM-PP) akan berperan dalam mengawasi pelaksanaan pembelajaran daring. "Semua harus dipantau. Bagaimana prosesnya, bagaimana evaluasinya, itu akan terus kita perbaiki," bebernya.
Selain pengawasan internal, kampus juga membuka ruang bagi mahasiswa untuk menyampaikan aspirasi terkait pelaksanaan pembelajaran daring. Masukan dari organisasi mahasiswa (ormawa) menjadi salah satu bahan evaluasi yang akan dibahas dalam rapat pimpinan kampus. (aya)