SLEMAN - Ketergantungan pada layanan cloud asing masih menjadi sorotan di tengah percepatan transformasi digital. Di sisi lain, pemanfaatan teknologi dalam negeri dan talenta lokal dinilai belum optimal.
Pakar telematika yang juga pendiri Onno Center Prof Onno Widodo Purbo menilai persoalan utama ada pada arah kebijakan anggaran teknologi.
“Pertanyaannya sederhana, anggaran teknologi yang besar itu mau ke siapa. Ke luar negeri atau untuk anak muda Indonesia yang bisa bikin teknologi sendiri,” ujar Rektor Institut Teknologi Tangerang Selatan (ITTS) itu.
Baca Juga: Torehan 39 Poin Belum Menjamin Posisi Aman, Franco Ramos Ingatkan PSIM Usai Rentetan Hasil Minor
Menurut Onno, Indonesia memiliki banyak talenta digital yang mampu bersaing. Namun, mereka masih butuh dukungan nyata agar bisa berkembang.
“Indonesia mampu kok. Tinggal mau atau tidak memberi kesempatan kepada anak muda kita,” katanya di sela kegiatan Cloud Regional Open Source Summit (CROSS) Indonesia 2026 di Universitas Jenderal Achmad Yani (Unjaya), Gamping, Sleman, Sabtu (25/4/2026).
Wakil Dekan II Fakultas Teknik dan Teknologi Informasi Unjaya Chanief Budi Setiawan, menegaskan peran kampus tidak hanya mencetak lulusan.
Baca Juga: Sapu Bersih Final! Jakarta Pertamina Enduro Pertahankan Gelar Juara Proliga 2026
Chanief menyebut kampus juga harus melahirkan inovasi dan menjadi penggerak transformasi digital.
“Kami percaya sinergi akademisi, pemerintah, industri, dan komunitas open source adalah kunci solusi digital Indonesia,” ujarnya.
Chanief menambahkan, CROSS 2026 menjadi ruang penting untuk merumuskan standar open source sesuai kebutuhan nasional.
Baca Juga: Kejar Tiket Promosi Otomatis. PSS Sleman Incar Tiga Poin di Markas Persiba Balikpapan
Forum ini juga membahas pemilihan teknologi yang tepat serta praktik terbaik di sektor publik dan industri.
Mendorong kedaulatan digital melalui pemanfaatan teknologi open source dan pengembangan cloud lokal.
Selain itu, forum juga menyoroti pentingnya perlindungan data pribadi. Migrasi dari sistem cloud tertutup ke sistem terbuka dinilai sejalan dengan UU Perlindungan Data Pribadi (UU PDP).
Baca Juga: Tingkatkan Sinergisitas Dengan KONI Kabupaten/Kota, KONI DIY Ziarahi Makam Ketum Pertama
Sementara, Ryo Ardian dari Cloud in Asia mengatakan, penguatan cloud nasional tidak bisa dilakukan sendiri.
“Kolaborasi kampus, industri, dan komunitas menjadi kunci membangun ekosistem cloud yang berdaulat,” ujar pria yang juga seorang pegiat kedaulatan digital dan open infrastructure di Asia Tenggara itu.
Editor : Heru Pratomo