Gedung dr HR Suparsono dipenuhi suasana haru dan bangga saat ratusan mahasiswa Universitas Tidar (Untidar) diwisuda, Sabtu (11/4). Di antara ratusan toga yang seragam, kisah perjuangan tiap wisudawan justru beragam, sebagian di antaranya lahir dari keterbatasan, sebagian lain dari keberanian memilih jalur berbeda.
Septiawan Puji Trianto menjadi wisudawan terbaik akademik dengan IPK 3,91 dan masa studi 3 tahun 5 bulan. Namun, capaian itu bukan datang dari jalan yang mudah. Septiawan lahir dari keluarga sederhana di Purbalingga, ayah seorang petani dan ibu pedagang pindang.
Ia tumbuh dengan kesadaran bahwa pendidikan adalah satu-satunya jalan untuk mengubah keadaan. "Kalau bukan saya, mau siapa? Kalau tidak sekarang, mau kapan?" ujarnya usai diwisuda.
Baca Juga: Harga Tiket Pesawat Naik, YIA Masih Dipadati Penumpang
Sejak awal, ia menanamkan prinsip sederhana yang ia sebut DUIT atau doa, usaha, dan ikhtiar. Prinsip itu, kata dia, menjadi pegangan di tengah padatnya aktivitas sebagai mahasiswa yang tidak hanya belajar, tetapi juga bekerja.
Di luar kuliah, Septiawan menjalani berbagai peran, seperti fotografer, videografer, pembawa acara, hingga mengelola usaha open trip yang kini telah berbadan hukum. Bahkan, ia kerap harus membagi waktu antara pekerjaan dan akademik, dengan waktu tidur yang sering terpangkas.
Aktif di organisasi seperti Badan Peradilan Semu dan BEM FISIPOL, ia juga sempat meraih prestasi nasional sebagai ketua majelis hakim terbaik dalam kompetisi peradilan semu. "Yang penting itu skala prioritas. Harus tahu mana yang utama," paparnya.
Baca Juga: Pengerjaan Proyek Jembatan Kewek Mundur di Bulan Mei, Awal Tahun Depan Baru Bisa Digunakan
Bagi keluarga Septiawan, capaian ini menjadi kebanggaan tersendiri. Ibunya, Rumini, yang sehari-hari berdagang kecil-kecilan, mengaku perjuangan membiayai pendidikan anaknya tidak mudah. "Kadang dia bilang uang habis, tapi kami juga belum punya. Ya, saling bantu sama kakaknya," timpalnya.
Septiawan ingin melanjutkan studi S2 dengan beasiswa, sembari tetap mengembangkan usaha yang telah dirintis. Cita-citanya pun mulia, ingin menjadi akademisi atau dosen.
Berbeda dengan Septiawan, Zidan Rizka Alhafidz justru menarik perhatian karena memilih jalur kelulusan yang tidak lazim, yakni tanpa skripsi. Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia ini mengganti tugas akhir dengan publikasi artikel ilmiah yang berhasil terbit di jurnal terindeks Sinta 3.
Artikel yang ia susun berfokus pada pengembangan bahan ajar teks ilmiah populer untuk siswa SMP. Prosesnya dimulai sejak semester 6, saat kebijakan jalur publikasi mulai diterapkan di kampus. "Menurut saya ini jalur yang lebih cepat dan sesuai dengan passion saya di menulis," bebernya.
Dengan IPK 3,83 dan masa studi yang hampir sama dengan Septiawan, Zidan juga menorehkan berbagai prestasi di bidang ilmiah dan kompetisi mahasiswa. Seperti Septiawan, ia juga menyimpan mimpi yang sama, yakni menjadi pengajar.
Baca Juga: Pep Guardiola: Manchester City Tau Apa Yang harus Dilakukan Dalam Perebutan Gelar Lawan Arsenal
Pada periode April 2026 ini, Universitas Tidar meluluskan 528 wisudawan, terdiri dari 511 sarjana, 7 sarjana terapan, dan 10 ahli madya. Sebanyak 24 di antaranya meraih predikat cumlaude.
Rektor Untidar, Prof Sugiyarto menilai, capaian para wisudawan tahun ini menunjukkan keseimbangan antara prestasi akademik dan nonakademik. Dia juga menyoroti latar belakang beragam para lulusan, termasuk mereka yang berasal dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi. "Ada yang orang tuanya cleaning service, ada yang benar-benar dari kondisi sulit, tapi tetap bisa lulus. Itu yang mengharukan," terangnya. (pra)
Editor : Heru Pratomo