JOGJA - PSIM Jogja secara progresif terus menunjukkan arah baru yang lebih luas dari sekadar klub sepakbola. Di tengah kompetisi yang berjalan, Laskar Mataram perlahan turut serta membangun pengaruh di luar lapangan dengan masuk ke ruang-ruang pendidikan, dari sekolah hingga kampus. Sebagai bagian dari upaya membentuk ekosistem dan kedekatan dengan generasi muda.
Langkah ini tercermin melalui program PSIM Goes to School yang telah berjalan, hingga pengembangan terbaru lewat PSIM Goes to Campus. Bukan sekadar agenda kunjungan, program ini menjadi medium bagi PSIM untuk menanamkan nilai, membangun citra, sekaligus memperluas basis pengaruh di masyarakat.
Baca Juga: IRGC Luncurkan Eempat Rudal Ghadr Ke Kapal Induk USS Abraham Lincoln
Direktur Utama PSIM Jogja Yuliana Tasno menyebut, bahwa arah ini berangkat dari visi yang lebih besar, yakni menjadikan PSIM sebagai entitas yang membanggakan sekaligus memberi dampak, terutama bagi DIJ.
"Kami ingin membanggakan DIJ lewat prestasi, ketika kami sukses, kami juga bisa membawa amanah itu kembali ke masyarakat," ujar sosok yang akrab disapa Ci Liana tersebut, Jumat (3/4).
Program PSIM Goes to School selama ini menjadi fondasi awal. Dalam kegiatan tersebut, pemain PSIM hadir langsung ke sekolah untuk berbagi pengalaman, memberikan motivasi, hingga menggelar coaching clinic.
Selain mendekatkan klub dengan pelajar, program ini juga berfungsi sebagai pintu awal dalam membangun koneksi jangka panjang dengan generasi muda.
Namun, PSIM tidak berhenti pada level sekolah. Ekspansi ke kampus menjadi langkah lanjutan yang secara strategis memperluas jangkauan pengaruh klub. Universitas Gadjah Mada (UGM) telah menjadi salah satu titik awal, dengan agenda berikutnya menyasar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) hingga Universitas Indonesia (UI).
"Kami sudah Goes to School, dan sekarang masuk ke universitas-universitas. Sudah ke UGM, selanjutnya ke UNY, bahkan proyeksinya juga akan ke UI," ungkap Ci Liana.
Baca Juga: Jean-Paul Van Gastel Lakukan Rotasi, Haljeta Diparkir, Donny Warmerdam Debut Sebagai Starter
Masuknya PSIM ke lingkungan kampus bukan tanpa makna. Di ruang ini, PSIM tidak lagi hanya berbicara soal sepakbola, tetapi juga tentang proses, nilai, dan perjalanan membangun organisasi. Liana menilai, ketika sebuah institusi mulai mendapatkan tempat, ada dorongan untuk membagikan apa yang ada di balik capaian tersebut.
"Kalau saya boleh jujur, rahasia saya itu integritas. Ketulusan. Saya percaya kerja yang tulus dan benar itu jalannya pasti terbuka," tegasnya.
Pernyataan tersebut sekaligus menjadi penegasan bahwa nilai menjadi fondasi utama dalam arah baru PSIM. Integritas dan ketulusan tidak hanya diposisikan sebagai prinsip internal, tetapi juga sebagai pesan yang ingin disampaikan kepada publik, khususnya generasi muda.
"Kami tentu ingin berkontribusi dan memberikan dampak. Tidak hanya di dalam lapangan saja, tapi juga di konteks yang lebih luas di luar lapangan," paparnya. (iza/pra)
Editor : Heru Pratomo