Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Puasa Bukan Alasan Malas, Ramadan Bisa Dongkrak Produktivitas Kerja!

Winda Atika Ira Puspita • Senin, 16 Maret 2026 | 06:00 WIB

 

Dr. Muhammad Zakiy
Dr. Muhammad Zakiy

BANTUL – Bulan Ramadan seharusnya tidak dijadikan alasan untuk menurunkan produktivitas kerja.

Sebaliknya, puasa menjadi momentum bagi umat Muslim untuk memperkuat ketakwaan sekaligus meningkatkan profesionalisme dan etos kerja sebagai bagian dari ibadah.

Dosen Program Studi Ekonomi Syariah Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Dr. Muhammad Zakiy, M.Sc mengatakan, Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan madrasah spiritual yang membentuk pribadi bertakwa.

Nilai ketakwaan tersebut, menurutnya, tidak hanya diwujudkan melalui ibadah ritual, tetapi juga dalam aktivitas sehari-hari termasuk di tempat kerja.

“Dalam Islam, bekerja bukan sekadar aktivitas ekonomi untuk mencari nafkah, tetapi juga bagian dari ibadah yang memiliki dimensi moral dan spiritual,” ujarnya.

Ia menilai masih ada persepsi keliru di masyarakat yang menganggap produktivitas kerja wajar menurun saat berpuasa.

Padahal, dalam ajaran Islam, profesionalisme dalam bekerja merupakan kewajiban setiap Muslim.

Hal itu selaras dengan sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Thabrani bahwa Allah mencintai seseorang yang bekerja secara itqan atau profesional.

Konsep itqan menuntut setiap individu bekerja dengan sungguh-sungguh, tekun, serta memberikan hasil terbaik.

Kesadaran bahwa setiap pekerjaan diawasi oleh Allah SWT seharusnya menjadi motivasi untuk tetap produktif dan berdedikasi meski sedang menjalankan ibadah puasa.

Implementasi nilai ketaqwaan di bulan suci ini juga harus tercermin melalui penegakan etika kerja Islam yang kokoh dalam menjalankan operasional pekerjaan.

Seorang profesional Muslim wajib mengedepankan prinsip keadilan (al-'adl) dan kejujuran (ash-shiddiq) dalam setiap pekerjaannya.

Hal ini mencakup pemberian upah yang adil kepada karyawan serta penyampaian informasi produk yang akurat kepada konsumen tanpa ada unsur penipuan atau praktik batil.

“Ramadan adalah waktu yang tepat untuk meninggalkan mentalitas transaksional yang hanya mengejar keuntungan materi sesaat atau bergantung pada norma timbal balik semata. Sebaliknya, kita harus meneladani sifat Al-Amin Rasulullah SAW dengan menjaga amanah dan menolak segala bentuk pengkhianatan terhadap tanggung jawab pekerjaan,” jelasnya.

Selain itu, semangat Ramadan yang identik dengan pengendalian diri dan kepedulian sosial sangat relevan dengan prinsip tanggung jawab sosial serta ketidakmubaziran.

Pekerja profesional tidak sewajarnya hanya berfokus pada profit, tetapi juga harus memperhatikan dampak sosial (people) dan kelestarian lingkungan (planet) demi meraih keberkahan atau rida Allah

Dengan mengintegrasikan niat yang ikhlas, integritas yang tinggi, serta kerja sama (al-ta'awun) yang harmonis, profesionalisme di bulan Ramadan akan membangun reputasi yang kuat dan memberikan manfaat berkelanjutan bagi institusi maupun masyarakat luas. (*/wia)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#produktivitas kerja #puasa #dosen umy #ramadan