Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Dosen KPI UMY Kholifatul Fauziyah Sebut Bulan Ramadan Jadi Momentum Lawan Cyber Bullying  

Winda Atika Ira Puspita • Senin, 9 Maret 2026 | 07:00 WIB

 

Dosen KPI UMY Kholifatul Fauziyah.
Dosen KPI UMY Kholifatul Fauziyah.

BANTUL  -  Fenomena cyber bullying di ruang digital dinilai semakin memprihatinkan dan meninggalkan dampak psikologis yang serius bagi korban.

Nilai-nilai Islam mengajarkan agar umat Muslim menjaga lisan dan tindakan, termasuk dalam interaksi di media sosial, terlebih di momentum Ramadan yang menjadi madrasah pengendalian diri.

Dosen KPI UMY Kholifatul Fauziyah mengatakan, hal itu selaras dengan sabda Nabi Muhammad SAW: “Seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

“Hadis ini menghadirkan standar akhlak yang begitu jernih dan mendasar. Ukuran kemuliaan seorang Muslim bukan pada seberapa lantang ia berbicara, tetapi pada seberapa aman orang lain dari lisannya,” katanya.

Terlebih, di era digital, makna lisan dan tangan meluas. Lisan tak lagi hanya suara yang terucap, tetapi juga tulisan yang diketik.

Tangan bukan sekadar tindakan fisik, melainkan jari yang menekan tombol kirim dan membagikan.

“Setiap komentar, unggahan, dan pesan yang kita lepaskan ke ruang maya adalah jejak moral yang tak terhapus begitu saja,” ujarnya.

Oleh karena itu, cyber bullying sejatinya bukan fenomena baru. Ia adalah kemungkaran gaya lama-menghina, mencela, menyebar aib, merendahkan martabat yang kini bergerak melalui linimasa dan ruang percakapan daring.

Teknologi hanya mempercepat dan memperluas dampaknya.

Jika dahulu celaan berhenti di satu majelis, kini ia dapat menjangkau ribuan bahkan jutaan mata dalam hitungan detik.

Baca Juga: Bandeng Presto dan Tahu dari Menu MBG Dinilai Mentah oleh Wali Murid SD PL Sedayu, Pemkab Sebut Sudah Matang dan Tinggal Dipanaskan

Alquran sebenarnya telah memberikan peringatan tegas terkait perilaku tersebut.

Dalam Surah Al-Hujurat ayat 11–12, umat beriman diingatkan agar tidak saling mengolok-olok, mencela, memberi julukan buruk, berprasangka, mencari-cari kesalahan, maupun menggunjing.

Panggilan kepada orang beriman dalam ayat tersebut menegaskan bahwa merendahkan orang lain tidak sejalan dengan nilai iman yang diakui.

Tak hanya itu, menggunjing diibaratkan seperti memakan daging saudara sendiri yang telah mati. Gambaran ini begitu tajam dan mengguncang nurani.

Ia menunjukkan betapa hinanya merusak kehormatan sesama. “Artinya, jauh sebelum istilah “cyber bullying” dikenal, Alquran telah lebih dahulu membentengi umat dari akar perilaku yang melukainya.

Nilai yang diajarkan tetap relevan: menjaga kehormatan manusia adalah kewajiban, di ruang nyata maupun ruang digital,” sambungnya.

Menurutnya, cyber bullying menyisakan luka psikologis yang sering tak terlihat: rasa malu, cemas, hilang percaya diri, bahkan trauma yang panjang.

Dalam setiap kasusnya, ada pelaku, korban, dan penyaksi. Ketiganya membentuk dinamika yang saling memengaruhi.

Maka, Ramadan hadir sebagai madrasah pengendalian diri. Bagi pelaku, puasa melatih kesabaran dan menahan dorongan untuk menyakiti.

Menahan satu komentar kasar bisa jadi lebih berat daripada menahan lapar, tetapi di situlah letak nilai ibadah.

Menghapus ujaran yang melukai dan meminta maaf adalah langkah keberanian moral.

Bagi korban, Ramadan menguatkan hati bahwa kemuliaan di sisi Allah diukur dengan ketakwaan, bukan opini warganet yang mudah berubah.

Tidak ada hinaan manusia yang mampu mengurangi nilai diri yang telah Allah tetapkan.

Bagi penyaksi, Ramadan adalah panggilan untuk tidak diam dalam kemungkaran.

Tidak ikut menyebarkan, tidak menertawakan, serta berani membela dengan santun adalah wujud nyata amar makruf nahi munkar.

Ramadan seharusnya melahirkan generasi yang bukan hanya cakap menggunakan teknologi, tetapi juga matang dalam akhlak dan nurani.

Generasi yang sadar bahwa setiap kata memiliki konsekuensi.

Generasi yang memilih menjaga kehormatan, bukan merendahkan. Generasi yang menjadikan ruang digital sebagai ladang kebaikan, bukan ladang kemungkaran. (*/wia)

 

 

 

 

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#dosen umy #cyber bullying #ramadan