Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

MBG Berjamur dan Tak Layak Gizi Masih Marak di Berbagai Daerah, Pengamat UGM Soroti Risiko Kesehatan

Fahmi Fahriza • Sabtu, 7 Maret 2026 | 20:00 WIB

Guru Besar bidang Farmakologi dan Farmasi Klinik Fakultas Farmasi UGM Zullies Ikawati
Guru Besar bidang Farmakologi dan Farmasi Klinik Fakultas Farmasi UGM Zullies Ikawati

SLEMAN - Program makan bergizi gratis (MBG) yang digagas pemerintah untuk meningkatkan asupan gizi anak sekolah masih menuai polemik di berbagai daerah. Selain menu yang dinilai belum memenuhi standar gizi, sejumlah temuan makanan tidak layak konsumsi juga masih banyak bermunculan di lapangan.

Salah satu temuan terbaru adalah roti berjamur dalam menu MBG kering yang didistribusikan selama bulan puasa. Ratusan roti dalam program tersebut ditemukan berjamur di Kabupaten Blora, Jawa Tengah, hingga akhirnya dikembalikan ke pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Baca Juga: 15 Guru dari Lima Sekolah di DIY Dapat Bantuan dari Lazismu RS PKU Muhammadiyah

Kasus serupa juga dilaporkan terjadi di daerah lain. Seperti di SMPN 1 Delanggu dan beberapa sekolah di Sumatera Selatan, antara lain SDN 1 Tugu Papak di Kecamatan Semaka, SDN 1 Kanyangan, SDN 1 Negarabatin, SDN 1 Pulau Benawang di Kecamatan Kotaagung Barat, serta sejumlah SD di wilayah Kotaagung Timur.

Meski dinilai praktis dari sisi penyimpanan dan distribusi, penyediaan menu MBG dalam bentuk roti dinilai tidak boleh mengabaikan aspek mutu dan keamanan pangan.

Guru Besar Bisang Farmakologi dan Farmasi Klinik Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM) Zullies Ikawati menilai, temuan roti berjamur dalam program MBG seharusnya menjadi perhatian serius. Menurutnya, kejadian seperti ini umumnya berkaitan dengan penyimpanan, distribusi, atau masa simpan yang tidak terkontrol dengan baik. “Evaluasi sistem pengadaan, penyimpanan, dan pengawasan mutu makanan di MBG perlu diperkuat," ujarnya Sabtu (7/3).

Baca Juga: Prediksi Skor Juventus vs Pisa Serie A Minggu 8 Maret 2026

Menurutnya, roti yang berjamur menunjukkan adanya pertumbuhan mikroorganisme sehingga tidak lagi layak dikonsumsi. Zullies menjelaskan, roti berjamur umumnya ditumbuhi kapang seperti Aspergillus, Penicillium, atau Rhizopus. Beberapa jenis kapang bahkan dapat menghasilkan mikotoksin, yakni senyawa beracun yang dihasilkan oleh jamur. "Contohnya aflatoksin, ochratoxin, atau toksin lainnya,” rincinya.

Meski tidak semua jamur menghasilkan toksin, secara prinsip makanan yang berjamur tidak boleh dikonsumsi. “Karena tidak bisa dipastikan jenis jamur yang tumbuh dan apakah sudah menghasilkan toksin atau belum," jelasnya.

Baca Juga: Alasan Richard Lee Ditahan di Polda Metro Jaya, Buntut Perseteruan dengan Doktif

Ia menambahkan, mengonsumsi roti berjamur dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan. Dampak yang paling umum adalah gangguan saluran cerna seperti mual, muntah, nyeri perut, atau diare. Pada individu tertentu, jamur juga dapat memicu reaksi alergi.

Dalam kasus tertentu, jika makanan terkontaminasi mikotoksin dalam jumlah tertentu dan dikonsumsi dalam jangka panjang, dampaknya bisa lebih serius.

 

"Pada anak-anak, yang sistem imunnya masih berkembang, risiko efek kesehatan bisa lebih besar dibandingkan orang dewasa," ucapnya.

Zullies menambahkan, roti berjamur tidak selalu berarti sudah melewati tanggal kedaluwarsa. Jamur tetap dapat tumbuh meskipun produk masih berada dalam masa konsumsi jika penyimpanannya tidak tepat.

Menurutnya, kondisi tempat yang terlalu lembap atau suhu yang terlalu hangat dapat mempercepat pertumbuhan jamur pada roti. Karena itu, roti yang sudah menunjukkan tanda-tanda berjamur sebaiknya tidak dikonsumsi meskipun tanggal kedaluwarsanya belum lewat.

Ia juga mengingatkan beberapa tanda fisik yang menunjukkan roti tidak lagi layak dikonsumsi, seperti munculnya bercak jamur berwarna hijau, hitam, putih, atau kebiruan. Selain itu, roti yang berbau apek atau asam, teksturnya terlalu lembap atau berlendir, serta mengalami perubahan warna juga patut diwaspadai.

"Jika salah satu tanda tersebut muncul, sebaiknya roti tidak dikonsumsi," paparnya.

Untuk mencegah kejadian serupa, ia mendorong adanya pengawasan kualitas pangan yang lebih ketat dalam pelaksanaan program MBG. Pengawasan tersebut perlu dilakukan sejak tahap produksi hingga distribusi makanan ke sekolah.

Selain itu, kontrol terhadap masa simpan dan tanggal produksi setiap produk yang didistribusikan juga perlu diperketat. Disertai sistem penyimpanan yang sesuai seperti pengaturan suhu dan lingkungan yang tidak lembap. "Perlu dilakukan latihan soal keamanan pangan bagi pihak yang terlibat di penyediaan makanan sekolah, dan dengan sistem pengawasan yang baik, risiko kontaminasi pangan seperti ini sebenarnya bisa diminimalkan,"  sebutnya. (iza)

Editor : Sevtia Eka Novarita
#Universitas Gadjah Mada (UGM) #Mbg #jamur #ZULLIES IKAWATI #Program makan bergizi gratis (MBG) #asupan gizi #berjamur