Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

DIY Masuk Lima Besar Kasus Narkoba Nasional, UMY Lakukan Pengabdian Bersama BNNP Perkuat Ketahanan Keluarga dan Sekolah

Fahmi Fahriza • Sabtu, 7 Februari 2026 | 18:00 WIB

 

Jajaran pimpinan UMY beserta kepala BNNP DIY dalam acara launching Pengabdian Masyarakat UMY Skema Khusus Kerja Sama BNNP DIY Sabtu (7/2)
Jajaran pimpinan UMY beserta kepala BNNP DIY dalam acara launching Pengabdian Masyarakat UMY Skema Khusus Kerja Sama BNNP DIY Sabtu (7/2)

BANTUL - Tingginya angka penyalahgunaan narkoba di DIY turut menjadi sorotan serius. Berdasarkan data Badan Narkotika Nasional (BNN), DIY secara konsisten masuk dalam lima besar provinsi dengan prevalensi penyalahgunaan narkoba tertinggi di Indonesia. Kondisi ini dinilai sebagai ancaman serius bagi masa depan generasi muda.

Merespons situasi tersebut, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) bersama Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) DIY menggelar Program Pengabdian kepada Masyarakat Skema Khusus bertajuk “Penguatan Ketahanan Keluarga Berbasis Multidisiplin sebagai Upaya Pencegahan Narkoba di Sekolah Bersinar di Jogjakarta”.  Kegiatan tersebut berfokus pada penguatan peran keluarga dan sekolah dalam upaya pencegahan narkoba di kalangan anak-anak muda.

Program ini melibatkan guru, orang tua, serta siswa dari SMA Muhammadiyah 1 Jogja, SMA Negeri 11 Jogja, SMK Negeri 2 Jogja, dan SMK Negeri 3 Jogja. Melalui kegiatan tersebut, UMY dan BNNP DIY berkomitmen memperkuat edukasi pencegahan narkoba, memperkokoh peran keluarga, serta membangun lingkungan sekolah yang sadar, waspada, dan tangguh terhadap ancaman narkoba.  

Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, dan Hilirisasi UMY Supriyatiningsih menegaskan, keterlibatan perguruan tinggi dalam pengabdian masyarakat harus berpijak pada persoalan kebangsaan yang nyata, termasuk ancaman narkoba yang kian kompleks. "Narkoba itu musuh bersama. Ancamannya bisa disamakan dengan bentuk infiltrasi lain yang membahayakan bangsa. Ini bukan cuma persoalan kriminal, tapi perusak bangsa karena menghancurkan generasi," ujar Upi, sapaan akrabnya Sabtu (7/2).

Ia menyoroti kecanggihan jaringan narkoba yang terus beradaptasi, mulai dari perubahan bentuk dan kemasan hingga modus penyelundupan lintas negara. Menurutnya, upaya penindakan tidak akan cukup jika tidak dibarengi penguatan benteng sosial melalui edukasi dan pola pengasuhan yang sehat di lingkungan keluarga.

"Yang paling berbahaya, narkoba tidak hanya merusak individu, tetapi juga generasi yang akan dilahirkan," pesannya.

Ia menuturkan, situasi tersebut harus disoroti dan disikapi secara serius. Semua orang turut punya peranan penting juga untuk mencegah penggunaan narkoba, dan melakukan edukasi hingga mitigasi.

"Jika seorang ibu adalah pecandu, anak yang dilahirkan berpotensi membawa kerentanan kesehatan sejak awal kehidupan," ungkapnya.

Sementara itu, Kepala BNNP DIY Brigjen Pol Sulistyo Pudjo Hartono memaparkan, bahwa secara nasional angka pengguna narkoba terus mengalami peningkatan signifikan. Pada 2025, jumlah pengguna aktif melonjak dari sekitar 3,3 juta menjadi 5,4 juta orang.

"Jika ditanya usia paling muda pengguna narkoba, jawabannya bukan remaja, tetapi sejak di kandungan. Bayi bisa lahir dalam kondisi sudah terpapar narkoba karena ibunya adalah pecandu," jelas Sulistyo.

Maka dari itu, ia menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor, terutama antara BNN, perguruan tinggi, sekolah, guru, dan orang tua, sebagai strategi utama membangun daya tangkal sejak dini.

"Setiap kegagalan dalam membina anak juga menjadi beban bagi kami. Karena itu, kerja sama dengan UMY dan sekolah-sekolah sangat penting agar guru, orang tua, dan siswa memiliki kesadaran serta daya tangkal sejak dini," tegasnya. (iza)

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#Narkoba #program pengabdian #penyalahgunaan narkoba #Badan Narkotika Nasional (BNN) #UMY #DIY #bnnp diy