MAGELANG - Sebanyak 102 mahasiswa Universitas Tidar (Untidar) diterjunkan langsung ke wilayah terdampak bencana di Sumatra Barat dalam program Mahasiswa Berdampak: Pemberdayaan Masyarakat untuk Pemulihan Pascabencana.
Mereka tidak sekadar menjalani kegiatan pengabdian, tetapi membawa misi pemulihan jangka menengah melalui penerapan teknologi tepat guna dan penguatan ketahanan pangan masyarakat.
Rombongan mahasiswa yang didampingi enam dosen dan dua pendamping ini diberangkatkan dari Kampus Untidar, Sidotopo pada Sabtu (31/1).
Mereka akan ditempatkan di dua wilayah berbeda, yakni Kabupaten Agam dan Kabupaten Pesisir Selatan, yang masih berupaya bangkit dari dampak bencana alam pada penghujung 2025.
Rektor Untidar Prof Sugiyarto menyebut, penugasan ini bukan pekerjaan ringan. Mahasiswa akan berhadapan langsung dengan kondisi sosial, ekonomi, dan infrastruktur masyarakat yang belum sepenuhnya pulih.
"Kegiatan ini menuntut kebersamaan dan kepedulian. Di kondisi sesulit apa pun, kita harus saling membantu dan memberi manfaat," ujar Sugiyarto saat melepas keberangkatan rombongan.
Program Mahasiswa Berdampak merupakan inisiatif pemerintah melalui Kemendiktisaintek yang menempatkan mahasiswa sebagai aktor utama dalam proses pemulihan pascabencana.
Pendekatan yang digunakan tidak bersifat karitatif. Melainkan berorientasi pada solusi berkelanjutan yang dapat terus dimanfaatkan masyarakat setelah program selesai.
Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Untidar Eny Boedi Orbawati menjelaskan, Untidar berhasil meloloskan dua proposal dalam program nasional tersebut.
Dua kelompok mahasiswa berasal dari empat fakultas dengan latar belakang keilmuan yang berbeda, disiapkan untuk menjawab kebutuhan spesifik di masing-masing wilayah.
Di Kabupaten Agam, kata dia, fokusnya adalah pemulihan berbasis teknologi tepat guna. "Tim Untidar akan mengembangkan pembangkit listrik tenaga surya, sistem penjernihan air bersih, pengolahan hasil perikanan, serta pemanfaatan limbah minyak jelantah," katanya.
Sementara di Kabupaten Pesisir Selatan, mahasiswa akan mengintegrasikan ketahanan pangan melalui sistem smart farming. Mahasiswa akan menggarap instalasi smart farming sebagai upaya memperkuat sektor pangan masyarakat.
Teknologi pertanian cerdas ini diharapkan mampu meningkatkan produktivitas sekaligus efisiensi di tengah keterbatasan sumber daya pascabencana. (aya/pra)
Editor : Heru Pratomo