Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Smart Farming : Riset SV UNS Hadirkan IoT Rabuk dan AI Rabuk Apps Wujudkan Pemupukan Cerdas dan Presisi

Iwa Ikhwanudin • Minggu, 2 November 2025 | 15:04 WIB
Diseminasi Hasil Riset Terapan Berdikari Sekolah Vokasi UNS Kampus Madiun, di Satoria Hotel, Sleman, Kamis (30/10/2025).
Diseminasi Hasil Riset Terapan Berdikari Sekolah Vokasi UNS Kampus Madiun, di Satoria Hotel, Sleman, Kamis (30/10/2025).

SLEMAN - Direktorat Buah dan Florikultura, Direktorat Jenderal Hortikultura, Kementerian Pertanian RI, melalui perwakilannya, Dina Rosita, mengapreiasi Hasil Riset Berdampak Sekolah Vokasi (SV) Universitas Sebelas Maret (UNS) Kampus Madiun.

Riset Berdampak SV UNS tersebut berupa meningkatkan efisiensi budidaya salak.

Riset tersebut kini memasuki babak baru dengan hadirnya inovasi teknologi cerdas dari tim riset Sekolah Vokasi Universitas Sebelas Maret (UNS) Kampus Madiun.

Yakni melalui pengembangan Internet of Things (IoT) Rabuk dan Artificial Intelligence (AI) Rabuk Apps.

Tim SV UNS menawarkan solusi pemupukan presisi berbasis data yang dinilai mampu menekan biaya sekaligus meningkatkan produktivitas petani.

Dina menilai riset tersebut sebagai langkah penting menuju pertanian hortikultura berdaya saing tinggi.

Kedua inovasi tersebut menjadi sorotan dalam kegiatan Diseminasi Hasil Riset Terapan Berdikari yang berlangsung di Satoria Hotel, Sleman, Kamis (30/10/2025).

Acara dihadiri oleh akademisi, perwakilan Direktorat Buah dan Florikultura Kementerian Pertanian, pelaku usaha hortikultura, serta guru dan siswa SMKN 1 Salam, Magelang.

Baca Juga: Arsenal Kuatkan Cengkeraman di Puncak Klasemen Premier League Setelah Tundukkan Burnley Berkat Gol Gyokeres dan Declan Rice

Ketua tim peneliti, Darmawan Lahru Riatma, menjelaskan bahwa IoT Rabuk berfungsi memantau kondisi tanah secara real-time, mencakup kadar unsur hara N, P, dan K, tingkat kelembapan, pH, serta anomali iklim.

Data yang terkumpul kemudian diproses melalui AI Rabuk Apps untuk menghasilkan rekomendasi dosis pupuk yang sesuai dengan kebutuhan spesifik tiap tanaman.

“Kami ingin menggeser praktik pemupukan dari pola kebiasaan ke sistem berbasis data."

"Dengan begitu, pupuk digunakan secara efisien, biaya bisa ditekan, dan hasil panen berpotensi meningkat,” ungkap Darmawan, yang juga menjabat sebagai Kepala Program Studi D3 Teknik Informatika UNS Madiun.

Riset yang berlangsung selama satu tahun ini diujicobakan di kebun-kebun salak di wilayah Magelang.

Hasil sementara menunjukkan efisiensi penggunaan pupuk mencapai 8–20 persen, dengan penghematan tenaga kerja yang setara Rp120 ribu untuk setiap 100 tanaman.

Darmawan menambahkan bahwa pengukuran produktivitas buah salak dari lahan percobaan masih berlangsung dan hasilnya akan diketahui dalam waktu tiga pekan ke depan.

Dukungan juga disampaikan oleh Margono, eksportir sekaligus petani salak asal Magelang.

Menurutnya, penerapan sensor dan kecerdasan buatan dapat menjadi solusi atas kendala klasik petani di lapangan.

“Selama ini pemupukan sering tidak tepat waktu dan tidak merata."

"Dengan teknologi ini, kebutuhan tanaman bisa diketahui secara akurat, sehingga kualitas ekspor dan kontinuitas pasokan bisa lebih terjaga,” ujarnya.

Melalui riset terapan Berdikari ini, UNS Madiun berharap dapat memperluas penerapan pertanian cerdas bagi petani salak dan komoditas hortikultura lainnya.

Sejalan dengan upaya nasional menuju sistem pertanian yang berkelanjutan dan berbasis inovasi teknologi. (vis/naf/iwa)

Editor : Iwa Ikhwanudin
#Sekolah Vokasi UNS Kampus Madiun #Inovasi teknologi cerdas #UNS Kampus Madiun #Diseminasi Hasil Riset #Budidaya salak