RADAR JOGJA - Tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Universitas Gadjah Mada (UGM) berhasil mengembangkan inovasi microgreens berbasis mikroalga untuk mendukung program makan bergizi gratis (MBG).
Terobosan ini tidak hanya difokuskan pada peningkatan kandungan gizi. Tetapi juga menjadi jawaban atas tantangan keamanan pangan setelah maraknya kasus keracunan MBG di berbagai daerah.
Baca Juga: Keripik Belut, Camilan Khas Lokal yang Kian Diminati Pasar Nasional
Tim PKM terdiri atas Les’Aullian Achmad Argito, Achmad Tijani, M Fajar Ridho Ilham, Nisrina Rahma Ardihapsari, dan Dina Eka Apriliawati. Ketua tim PKM Argito menyampaikan, microgreens berbasis mikroalga memiliki keunggulan dari sisi efisiensi waktu tanam dan keamanan produksi.
Disebutkan bahwa, microgreens bisa dipanen dalam 10-14 hari dengan rantai distribusi pendek. Artinya, bisa dibudidayakan di lingkungan sekitar konsumen. Misalnya di sekolah atau kawasan rumah.
Baca Juga: Menikmati Kesederhanaan Soto Bathok, Kuliner Khas Sleman yang Bikin Rindu
"Kombinasi dengan mikroalga selain meningkatkan gizi, juga menekan pertumbuhan bakteri berbahaya karena proses penanamannya dilakukan di lingkungan terkontrol," ujar Argito, Sabtu (18/10).
Hasil riset menunjukkan, kombinasi Spirulina hidup 10 persen dengan AB Mix menghasilkan bobot basah tertinggi, yakni 1,94 gram. Jauh lebih tinggi dari kontrol yang hanya 0,51 gram. Perlakuan Chlorella mati yang dicampur AB Mix juga mencatat kandungan protein hingga 10,29 persen, hampir dua kali lipat dari kontrol.
Baca Juga: Ini Asal Mula Mitos Pasangan Bakal Putus bila Berkunjung ke Candi Prambanan
Peningkatan tersebut menunjukkan bahwa campuran mikroalga seperti Spirulina dan Chlorella mampu mempercepat proses fotosintesis microgreens.
"Sehingga menghasilkan pangan bergizi tinggi, cepat panen, dan lebih aman dikonsumsi," paparnya.
Dosen pembimbing tim Ardan Wiratmoko menilai, temuan ini hadir di momen yang krusial. Saat kasus keracunan MBG menjadi alarm serius soal kualitas pangan.
Baca Juga: Mengenal Lima Motif Batik Parang, Warisan Klasik Penuh Makna dari Batik Jawa
"Inovasi mahasiswa kami ini tidak hanya fokus di aspek gizi, tapi juga menekan potensi kontaminasi bakteri karena proses produksinya sederhana, higienis, dan dekat dengan titik konsumsi," jelasnya.
Secara garis besar, Argito dan tim berharap hasil penelitian ini dapat menjadi pijakan untuk memperkuat standar keamanan pangan dalam program MBG.
"Dengan microgreens mikroalga, program MBG diharapkan mampu memenuhi kebutuhan gizi anak sekolah secara lebih aman dan berkelanjutan," ungkap Argito. (iza)