MAGELANG – Universitas Muhammadiyah Magelang (Unimma) menorehkan prestasi di bidang pengabdian kepada masyarakat. Dua dosennya berhasil meraih pendanaan hibah dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Kemdiktisaintek untuk program pemberdayaan berbasis wilayah dan kewirausahaan tahun anggaran 2025.
Kedua proposal yang lolos itu menawarkan gagasan segar dalam memanfaatkan potensi lokal. Pertama, Dwi Susanti mengajukan program berjudul Penguatan Ekosistem Wisata Halal dan Pemberdayaan UMKM di Pemandian Air Panas Tempuran Magelang.
Sementara Nur Laila Yuliani, menggagas program bertajuk Mewujudkan Desa Wisata Berbasis Integrated Farming di Wringinputih, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang untuk Mendukung Borobudur sebagai Destinasi Pariwisata Super Prioritas.
Keduanya sama-sama menitikberatkan pada pemberdayaan masyarakat, pengembangan UMKM, dan penguatan ekosistem pariwisata. Lebih dari itu, program ini berpotensi memperkuat posisi Magelang dalam mendukung Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP) Borobudur.
Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Unimma Retno Rusdjijati mengapresiasi capaian dua dosen tersebut. Menurutnya, keberhasilan ini menjadi bukti nyata kontribusi kampus terhadap masyarakat. Terutama dalam hal pengabdian kepada masyarakat.
"Kepercayaan dari DPPM Kemdiktisaintek menjadi motivasi besar bagi kami untuk melahirkan program yang benar-benar berdampak, khususnya bagi masyarakat," ujarnya Senin (8/9).
Retno berharap, pencapaian ini menjadi langkah berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas riset dan pengabdian dosen. Sehingga Unimma bisa naik kelas menuju klaster mandiri. Keberhasilan ini juga menegaskan posisi Unimma sebagai perguruan tinggi yang aktif mendukung pembangunan daerah melalui riset, inovasi, dan kolaborasi.
Dosen Prodi Ilmu Komunikasi, Unimma Dwi Susanti mengatakan, dari enam pemandian air panas yang ada di Kecamatan Tempuran, Umbul Banyuroso dipilih sebagai pilot project pengembangan wisata halal. Umbul ini dinilai paling representatif. Karena pengelolaannya dilakukan oleh paguyuban aktif.
Selain itu, jumlah pengunjung relatif tinggi, dan pengelolaannya benar-benar berorientasi pada masyarakat. Hal ini terlihat dari keterlibatan masyarakat sekitar sebagai mayoritas tenaga kerja. Serta penyediaan lahan parkir dan lahan usaha secara gratis bagi masyarakat desa.
Dia menambahkan, penerapan konsep wisata halal bukan hanya menjawab kebutuhan wisatawan muslim. Tetapi juga memberikan jaminan layanan wisata yang bersih, aman, nyaman, dan ramah keluarga.
"Dengan standar halal, Desa Sumberarum dapat menjangkau pasar wisata yang lebih luas," lontarnya. (aya/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita