SLEMAN – Lagu kebangsaan Indonesia Raya menjadi penanda mula aksi dari tujuh agama menggelar kegiatan doa bersama di Masjid Kampus UIN Sunan kalijaga, Senin (8/9). Kegiatan ini digelar untuk mendoakan mereka yang jadi korban dalam gelombang demonstrasi di Indonesia. Sekaligus kembali mengingatkan pemerintah untuk mendengarkan dan melaksanakan aspirasi masyarakat.
Kegiatan yang diinisiasi oleh GUSDURian ini juga diisi dengan penampilan puisi, dan permainan musik. Kelompok masyarakat yang hadir terlisat khusyuk mendengarkan. Mereka duduk mengelilingi tulisan sepuluh nama korban meninggal. Dituliskan dalam papan tulis kapur dengan taburan bunga.
Selanjutnya, tujuh pemuka agama menyampaikan doa dengan cara masing-masing. Mulai dari Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, Konghucu, dan Penghayat Kepercayaan. Kegiatan ditutup dengan pernyataan sikap dan panggung budaya.
Dalam pernyataan sikap mereka ada sembilan poin yang disampaikan. Di antaranya, menuntut presiden untuk menghentikan segala kekerasan yang dilakukan oleh aparat, melakukan reformasi polri, dan mencopot Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Selain itu, penghapusan fasilitas dan tunjangan pejabat baik legislatif maupun eksekutif. Juga pembebasan para demonstran yang masih ditahan.
Presidium GUSDURian Jogja Hamada Hafidzu menjelaskan, aksi ini bukan hanya untuk mereka yang telah meninggal. Namun, yang dirawat di rumah sakit dan yang masih ditangkap oleh aparat selama demonstrasi. "Kami ingin membawa bahwa agama tidak luput dari gerakan-gerakan," terangnya ditemui di sela-sela acara.
Dia menilai, seluruh agama mengajarkan keadilan dan kejujuran. Dua hal tersebut menjadi modal untuk menghadapi setiap diskriminasi yang dilakukan oleh pemerintah. "Semua sedang berkabung dan tidak baik-baik saja. Jadi kami ingin menempuh jalur-jalur langit," katanya.
Sastrawan Indonesia Okky Madasari turut hadir dalam kegiatan ini. Dia menyebut doa bersama ini tidak sekadar meminta pada Tuhan. Namun, metafora bahwa masyarakat tengah menggugat pemerintah. Dia juga berpesan agar masyarakat tidak cepat puas dan senang atas kebijakan baru pemerintah. Misalnya, soal pemangkasan tunjangan anggota DPR. "Tunjangan itu hanya puncak gunung es. Akarnya itu yang harus diperbaiki," katanya.
Sementara itu, salah satu tokoh penghayat kepercayaan Daryono menyebut, para korban yang meninggal adalah pejuang. Dia berdoa agar mereka diampuni dosanya. Sementara untuk pemerintah, dia berdoa agar mereka bisa memikirkan rakyat. "Bagi yang rakus dan arogan silakan disingkirkan," kata laki-laki asal Kulonprogo ini. (del)
Editor : Heru Pratomo