JOGJA - Sebanyak 2.900 wisudawan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) prosesi wisuda periode Februari dan Mei 2025 masih belum mengantongi ijazah. Map biru tua dengan logo UNY yang seharusnya berisi ijazah asli, hanya berisikan kertas bertuliskan selamat.
"Seingatku hanya ada kertas tulisan selamat doang atau gimana kalau tidak salah, tidak ada ijazahnya," ujar salah satu alumni UNY yang namanya tak ingin dikorankan Rabu (13/8).
Setelah diwisuda Februari, dia baru mendapatkan informasi terkait ijazah pada 28 Mei. Surat edaran dari kampus yang menginformasikan tentang alasan belum diterbitkannya ijazah. "Seingetku alesannya itu ada masalah sinkronisasi data," bebernya.
Karena merasa sudah terlalu lama, dia pun mencoba menghubungi dosen jurusan. "Wisuda bulan Februari dan Mei sepengetahuanku belum mendapatkan ijazah semua," lontarnya.
Menurutnya, keterlambatan penerbitan ijazah tersebut cukup menganggu dalam mencari pekerjaan. Dia pun mencontohkan nasib yang dialami rekannya. Tidak bisa mendaftar karena mewajibkan persyaratan berupa ijazah.
"Jadi tidak bisa pakai surat keterangan lulus (SKL), bahkan temanku itu sudah balik ke rumah asalnya," ungkapnya.
Sampai saat ini, dia pun masih belum mengetahui kapan ijazah akan diterbitkan. "Edarannya hanya berisi alasan keterlambatan ijazah turun," keluhnya.
Terpisah, Ketua BEM KM UNY Rajesh Singh mengaku, telah bertemu dengan Rektor UNY Sumaryanto. Usulan yang disampaikan adalah terkait pencabutan surat pernyataan.
Meskipun UNY sudah merevisi surat tersebut, namun masih ada poin yang tidak direvisi. Yakni terkait imbauan kepada para mahasiswa agar menunggu proses penerbitan ijazah sesuai ketentuan yang berlaku.
Dari audiensi dengan Rektorat UNY, belum terbitnya ijazah karena server pangkalan data pendidikan tinggi (PDDikti) sedang eror. Informasi eror tersebut juga ada pemberitahuan resminya. Jika hal ini tidak selesai secepatnya, akan berimbas pada mahasiswa lain. "Belum lagi wisudawan Agustus ini yang berpotensi bertambah," ucapnya.
Sementara Wakil Rektor Bidang Akademik UNY Nur Hidayanto Pancoro Setyo Putro mengatakan, surat pernyataan tersebut sudah direvisi karena ada kesalahan redaksional. “Kami juga puyeng ini karena sistem (untuk mengurus penerbitan ijazah, Red) masih belum bisa diakses informasi dari penomoran ijazah dan sertifikat profesi nasional (PISN) bisa diakses Jumat pekan ini," bebernya.
Keterlambatan sekitar 2.900 ijazah mahasiswa, lanjutnya, lantaran ada transisi kurikulum serta sinkronisasi data ke pusat. Proses tidak hanya internal. Tetapi juga di PDDikti. Sehingga terjadi antrean ijazah.
Menurutnya, pihak UNY sudah mencoba memfasilitasi mahasiswa. Di kampus lain, mahasiswa baru bisa wisuda setelah data masuk PDDikti dan mendapat ijazah. "Kalau di UNY nggak, Pak Rektor bantu mahasiswa,” ucapnya.
Sehingga mahasiswa tidak perlu membayar UKT semester berikutnya. Maupun harus memilih drop out karena masa studinya telah habis. “Mereka ujian hari ini besok boleh yudisium. Dua minggu lagi bisa wisuda. Itu tidak terjadi di kampus lain," tegasnya.
Padahal, UNY bisa saja mengambil kebijakan mahasiswa wisuda setelah ijazah terbit. Namun hal itu tidak dilakukan. Karena efeknya mahasiswa harus membayar uang kuliah lagi.
Kini, kampus tengah mengupayakan ijazah cepat keluar. Hanya saja, masih terkendala sistem di luar kendali UNY. "Kan agak sulit untuk bisa seminggu PISN turun, sulit. Ini saja seminggu mati. PDDikti kadang 10 hari mati," jelasnya lagi. (oso/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita