Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Jomplangnya Kuota Mahasiswa Baru PTN dan PTS, UGM Ajak Kolaborasi untuk Pemerataan Mutu

Fahmi Fahriza • Senin, 11 Agustus 2025 | 06:18 WIB

Rektor UNY Prof Sumaryanto
Rektor UNY Prof Sumaryanto
JOGJA - Penerimaan mahasiswa baru perguruan tinggi negeri (PTN) dengan perguruan tinggi swasta (PTS) di DIY semakin jomplang.

PTN pun dituding kian serakah dengan banyaknya jalur dan kuota untuk mahasiswa barunya. Akibatnya, banyak PTS yang hanya dapat sedikit mahasiswa baru.

Hal ini dikhawatirkan makin banyak PTS yang akan gulung tikar. Lalu, apa kata pihak UGM, UNY, Aptisi (Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia)  Wilayah V, dan Dewan Pendidikan DIY soal fenomena ini?

Sekretaris Direktorat Pendidikan dan Pengajaran (DPP) UGM Dr Sigit Priyanta mengungkapkan, dalam lima tahun terakhir jumlah mahasiswa baru yang diterima UGM relatif stabil. Trennya meningkat secara moderat.

Pada 2021, UGM menerima 9.129 mahasiswa baru, kemudian meningkat menjadi 9.833 pada 2022, 10.101 pada 2023, 10.681 pada 2024, dan sedikit menurun menjadi 10.629 pada 2025.

"Angka ini mencakup mahasiswa tingkat sarjana dan sarjana terapan sekolah vokasi (SV)," kata Sigit kepada Radar Jogja, Minggu (10/8/2025).

Diakui, rasio penerimaan mahasiswa baru dibandingkan jumlah pendaftar berada di kisaran 2,6 hingga 5,3 persen. Untuk tahun 2025, total pendaftar mencapai 198.292 orang yang memperebutkan kursi di 93 program studi sarjana dan sarjana terapan.

"Ini menunjukkan kepercayaan masyarakat yang baik pada upaya peningkatan kualitas pendidikan yang dilakukan UGM secara berkelanjutan," tuturnya.

Ia merinci, UGM menetapkan komposisi penerimaan mahasiswa baru sebesar 30 persen dari jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP), 30 persen dari Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT), dan 40 persen dari jalur seleksi mandiri (SM). Pembagian ini relatif konsisten dari tahun ke tahun.

Menurut Sigit, tingginya minat calon mahasiswa untuk berkuliah di UGM dipengaruhi kombinasi reputasi, nilai, dan kualitas yang terjaga.

UGM yang berdiri sejak 1949, dikenal sebagai kampus kerakyatan yang inklusif dan membumi, dengan 68 persen program studi sarjana dan sarjana terapan telah terakreditasi unggul.

Prestasi internasional juga menjadi daya tarik. Seperti peringkat 224 dunia dan 53 Asia versi QS World University Rankings 2025, serta 27 bidang ilmu masuk daftar QS WUR by Subject.

Baca Juga: Mohamed Salah Tantang UEFA Untuk Menjelaskan Penyebab Kematian Pesepak Bola Palestina di Gaza

Ia lalu memetakan beberapa program studi yang terus menjadi primadona pendaftar, antara lain, Kedokteran, Farmasi, Teknik, Gizi Kesehatan, Ilmu Komputer, Hukum, Psikologi, Manajemen, Akuntansi, dan Komunikasi.

Di bidang agro, prodi Teknologi Pangan, Kehutanan, Peternakan, dan Agroindustri juga mencatat animo tinggi.

"Faktor kebutuhan dunia kerja, perkembangan isu global, dan relevansi ilmu turut mempengaruhi tren tersebut," paparnya.

Terkait kesenjangan penerimaan mahasiswa antara PTN dan PTS, UGM menilai perlu ada sinergi strategis.

Secara umum ia berujar PTN siap berbagi praktik baik dalam peningkatan mutu pendidikan, tata kelola, serta pelayanan mahasiswa.

"Kerja sama bisa berupa riset bersama, pertukaran dosen, hingga pengembangan kurikulum bersama PTS," jelas Sigit.

Ia juga mengingatkan kesenjangan yang terlalu lebar dapat memunculkan ketimpangan akses dan persepsi kualitas.

Pemerataan kualitas, memerlukan kebijakan distribusi dana dan hibah yang lebih adil, pelatihan dosen, penguatan kurikulum, serta akses teknologi yang merata di semua kampus.

UGM sendiri membuka akses luas bagi calon mahasiswa dari daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) melalui jalur afirmasi seperti ADik dan KIP-Kuliah.

Selain kemitraan dengan pemerintah daerah, UGM rutin mengadakan sosialisasi, menyediakan sistem UKT berbasis kemampuan ekonomi, serta beasiswa beragam.

"Mahasiswa dari daerah 3T yang diterima juga mendapat dukungan akademik dan adaptasi agar mereka dapat berkembang selama studi," kata Sigit.

Menurutnya, membangun pemerataan mutu pendidikan tinggi bukanlah kompetisi, tetapi misi bersama. Pemerataan kualitas butuh kolaborasi. PTN dan PTS harus saling memperkuat agar semua perguruan tinggi bisa berkontribusi mencetak SDM unggul bagi bangsa. (iza/laz)

 

Editor : Herpri Kartun
#ptn #perguruan tinggi swasta #perguruan tinggi negeri #UGM #jalur seleksi mandiri #perguruan tinggi #Yogyakarta #farmasi #Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) #seleksi nasional berdasarkan prestasi #Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia #PTS #asosiasi perguruan tinggi swasta indonesia aptisi #komunikasi #jogjakrta #SDM #Dr Sigit Priyanta #hukum #Akuntansi #gizi Kesehatan #psikologi #kedokteran #Jogja #manajemen #Sekretaris Direktorat Pendidikan dan Pengajaran #teknik