Di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), situasi penerimaan mahasiswa baru tahun ini turut diwarnai dinamika yang tak ringan.
Rektor UNY Prof Sumaryanto mengungkapkan, rata-rata penerimaan mahasiswa baru di UNY setiap tahun berada pada kisaran 8.000–9.000 orang.
Pada 2024 total mahasiswa baru yang diterima di jenjang S1, S2, dan S3 mencapai 12.002 orang.
Pada 2025 jumlahnya naik menjadi 12.306 mahasiswa dengan 9.598 di antaranya merupakan mahasiswa S1.
"Memang sedikit menurun dibanding tahun lalu untuk jenjang S1," ujarnya kepada Radar Jogja, Minggu (10/8/2025).
Menurut Sumaryanto, sejak 2021 hingga kini jumlah mahasiswa baru jenjang sarjana dan sarjana terapan di UNY konsisten berada di kisaran 8.000–9.000 orang per tahun.
Sebelum pandemi, jumlahnya hanya sekitar 5.000–6.000 mahasiswa baru per tahun.
Penambahan atau peningkatan kuota itu bukan tanpa alasan karena UNY sendiri juga terus berbenah untuk menambah fasilitas hingga membuka prodi-prodi baru.
"Di samping itu juga ada prodi yang sudah berdiri sendiri seperti psikologi. Itu tadinya bergabung di fakultas tertentu, saat ini sudah berdiri sebagai prodi dan fakultas sendiri," ulasnya.
Meski demikian, ia mengakui adanya situasi mortalitas mahasiswa baru, di mana cukup banyak calon mahasiswa menarik berkas pendaftaran atau mengundurkan diri setelah resmi diterima.
"Lumayan banyak saya melihat ada surat atau berkas pengunduran diri dari mahasiswa," ungkapnya.
Sumaryanto menyebut fenomena ini tidak sepenuhnya ideal bagi UNY. Sekaligus menandakan bahwa PTN pun menghadapi tantangan yang serupa dengan PTS dalam menjaring mahasiswa baru.
Terkait jalur penerimaan, UNY menerapkan tiga jalur utama, yakni SNBP, SNBT, dan jalur mandiri. Jalur mandiri ini terbagi menjadi beberapa kategori, seperti jalur prestasi, talent scouting, hingga bibit unggul Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK).
Untuk mengantisipasi tantangan itu, Sumaryanto menyatakan kesiapannya menjalin kolaborasi lintas kampus, baik dengan PTS maupun PTN.
Ia memaparkan berbagai bentuk kerja sama yang mungkin bisa direalisasikan, antara lain, pertukaran dosen dan mahasiswa, program studi bersama atau joint degree atau double degree, hingga kuliah umum, seminar, atau workshop bersama.
"Pengembangan kurikulum bersama juga bisa dilakukan. Terutama untuk program studi baru atau yang perlu standar industri tertentu," tandasnya. (iza/laz)
Editor : Herpri Kartun