JOGJA – Meninggalnya dua mahasiswa UGM peserta KKN-PPM di Maluku Tenggara jadi evaluasi. Kampus menegaskan keselamatan mahasiswa jadi prioritas nomor satu. Penarikan mahasiswa pun dipertimbangkan
Dua mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) meninggal akibat insiden kapal terbalik tersebut terjadi pada Selasa (1/7). Saat itu tujuh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata-Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) berada dalam satu speedboat yang mengangkut pasir dari Pulau Wahru.
Kapal itu dihantam gelombang tinggi dan angin kencang dalam perjalanan kembali ke daratan. Dalam kejadian tersebut, warga setempat dan lima mahasiswa selamat.
Sementara dua lainnya ditemukan meninggal dunia. Yakni Septian Eka Rahmadi dari Jurusan Teknologi Informasi, Fakultas Teknik dan Bagus Adi Prayogo dari Fakultas Kehutanan.
Dalam konferensi pers Rabu (2/7), Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Alumni UGM Dr. Arie Sujito, menyampaikan duka mendalam atas wafatnya dua mahasiswa UGM dalam insiden tersebut."Mahasiswa kami ini sedang menjalankan amanah intelektual. Kami sangat berduka," ujar Arie.
Baca Juga: SPMB SMA Jalur Afirmasi di DIY Semrawut, Dikpora Diskulifikasi 139 Calon Siswa
UGM juga masih menimbang akan dilanjutkan atau tidaknya proyek KKN di Manyeuw, Maluku Tenggara tersebut. Dari timeline pelaksanaan KKN, penarikan baru akan dilangsungkan pada 8 Agustus mendatang.
Menurut dia, jika mahasiswa yang selamat merasa perlu kembali ke Jogja akan difasilitasi. Namun, jika mereka ingin melanjutkan KKN, pendampingan akan diperkuat "Keselamatan fisik dan mental mereka adalah prioritas," lanjutnya.
UGM juga akan memperketat keselamatan dalam penempatan KKN. Terutama di daerah kepulauan atau wilayah dengan akses transportasi laut. Evaluasi menyeluruh akan mencakup standar operasional, mitigasi risiko, dan koordinasi intensif dengan pemerintah daerah.
"Ke depan, kami akan lebih hati-hati terutama di wilayah yang rawan cuaca ekstrem. Keselamatan nomor satu," pungkas Arie.
Sekretaris Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat UGM Dr. Djarot Heru Santoso mengungkapkan, terdapat sembilan tim KKN UGM yang saat ini diterjunkan di Maluku. Salah satunya di Kabupaten Maluku Tenggara.
Tim yang mengalami insiden terdiri dari 28 mahasiswa. Insiden terjadi saat pengangkutan pasir menggunakan speedboat yang biasa dipakai warga. Dalam kapal terdapat 12 orang dan 16 karung pasir. Trip pertama berjalan lancar.
“Tapi saat trip kedua, kapal dihantam badai dan terbalik," ulasnya.
Djarot bercerita, jarak kapal tenggelam ke bibir pantai kurang lebih sekitar 300 meter. Setelah berhasil berenang dan menyelamatkan diri ke bibir pantai, para korban langsung dilarikan ke rumah sakit. "Septian meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit, sementara Bagus ditemukan malam harinya," terang Djarot.
Sebelumnya, Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (SAR) Ambon, Maluku, Muhamad Arafah mengisahkan, kronoligis kejadian pada Selasa, (1/7) pukul 15.40 WIT, Basarnas Ambon melalui Pos SAR Tual menerima informasi kecelakaan laut. Satu unit longboat berpenumpang tujuh orang terbalik di sekitar Perairan Pulau Wahr Maluku Tenggara sekitar pukul 14.07 WIT dan meminta bantuan SAR.
Pukul 17.30 WIT, Tim SAR Gabungan tiba di Desa Debut dan melakukan koordinasi dengan masyarakat setempat. Dari hasil koordinasi tersebut tim mendapatkan informasi jumlah penumpang yang awalnya dilaporkan tujuh orang diralat menjadi 12 orang dengan rincian 10 orang selamat, satu orang meninggal dunia dan satu lainnya masih dinyatakan hilang.
Tim SAR gabungan bersama masyarakat setempat kemudian melakukan operasi pencarian terhadap satu orang korban lain di sekitar lokasi kejadian.
Pada pukul 23.00 WIT, satu orang korban lainnya berhasil ditemukan masyarakat dalam keadaan meninggal dunia. Kemudian dievakuasi Tim SAR gabungan menuju Rumah Sakit Karel Sadsuitubun guna penanganan lebih lanjut. (iza/pra)
Editor : Heru Pratomo