JOGJA - Empat mahasiswa baru (maba) Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogjakarta menerima bantuan pendidikan berupa laptop, uang tunai, serta produk dari ParagonCorp. Bantuan ini diberikan sebagai bentuk dukungan atas semangat juang dan ketekunan mereka menempuh pendidikan tinggi di tengah keterbatasan ekonomi.
Penyerahan bantuan dilakukan langsung oleh jajaran rektorat UGM. Ini sebagai bagian dari komitmen kampus dalam memperkuat akses pendidikan bagi mahasiswa berprestasi dari keluarga kurang mampu.
Salah satu penerima bantuan adalah Rofidah Nurhana Lestari, mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian UGM. Rofidah berasal dari keluarga sederhana, di mana ayahnya bekerja sebagai sopir truk jerami dengan penghasilan tak menentu, sementara ibunya merawat kakaknya yang sakit sejak lahir.
"Di sela-sela belajar dan menjaga konter HP, saya juga aktif belajar dan suka menulis puisi," katanya Selasa (1/7). Salah satu pencapaiannya yang membanggakan adalah, karyanya pernah dimuat bersama Najwa Shihab dalam buku Catatan Perjuangan.
Ia mengungkapkan, bisa diterima di UGM adalah salah satu pencapaian besar yang sangat ia syukuri. "Saya diterima melalui jalur SNBP dan mendapat beasiswa penuh," serunya.
Kisah lain datang dari Aprillia Dea Kurniasari, mahasiswa yang diterima di Prodi Bisnis Perjalanan Wisata, Sekolah Vokasi (SV) UGM. Sejak SMA, Aprillia telah belajar mengatur keuangan secara mandiri.
"Saya menyisihkan uang saku untuk membeli buku UTBK dan membayar biaya pendaftaran," kenangnya.
Diakui, meski memiliki latarbelakang perekonomian yang tidak cukup ideal, ia sangat mengapresiasi kedua orangtuanya, sebab tetap mengutamakan pendidikan bagi dirinya.
"Meski orang tua saya tidak bisa membekali secara materi, mereka ingin membekali saya dengan pendidikan," kata Aprillia, mengisahkan tentang dukungan kedua orang tuanya.
Sementara itu, Anisa Ramadhani, mahasiswa Prodi Perbankan Sekolah Vokasi UGM juga menunjukkan kegigihannya dalam belajar. Datang dari keluarga buruh tani, Anisa tak pernah mengikuti les atau bimbingan belajar.
Dalam prosesnya, ia belajar secara mandiri dengan mencatat dan merangkum materi pelajaran. Hasilnya, ia meraih juara 2 Ecolympic di UNY.
"Orang tua saya hampir tak pernah libur bekerja, demi pendidikan anak-anaknya. Itu yang membuat saya terus ingin berjuang," ujarnya.
Adapun Sahida Ilmi, mahasiswa Kedokteran Gigi UGM tumbuh di lingkungan keluarga petani. Sejak kecil ia menyaksikan kerja keras sang ayah sebagai tukang batu dan kuli serabutan.
Sejak SMA, Ilmi bertekad meraih prestasi dan mengikuti berbagai perlombaan akademik. Ia ingin menjadi dokter gigi yang amanah dan berkontribusi bagi masyarakat. "Orang tua saya selalu berkata, jika kita mau berusaha, pasti semua ada jalannya," tandasnya. (iza/laz)
Editor : Herpri Kartun