JOGJA - Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) melalui Departemen Teknologi Pendidikan (TP) Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP), menunjukkan sikap terbuka terhadap pemanfaatan teknologi Artificial Intelligence (AI) dalam dunia akademik.
Ketua Departemen Kurikulum dan Teknologi Pendidikan, serta kaprodi TP FIP UNY Dr. Sisca Rahmadonna menegaskan, bahwa pihaknya tidak menutup mata terhadap perkembangan teknologi yang pesat ini.
"Saya pribadi menyadari dan mengakui AI itu memang membantu, termasuk dalam konteks dunia pendidikan," ujarnya saat ditemui di kampus FIP UNY, Kamis (12/6).
Donna sapaannya, mengungkapkan bahwa belum lama ini TP UNY juga kedatangan profesor dari Taiwan yang memperkenalkan berbagai fitur AI dalam dunia pendidikan.
"Kami di TP tidak bisa menolak keberadaan AI, justru akan tertinggal jika menolaknya. Namun, penggunaannya harus bertanggung jawab," urainya.
Donna menegaskan, secara prinsip bahwa para mahasiswa juga diperbolehkan menggunakan AI, tetapi harus tetap mengedepankan pemikiran kreatif dan kritis.
"Jangan sepenuhnya percaya AI. Kemampuan berpikir mandiri tetap harus digunakan, apalagi di dunia akademik menuntut pertanggungjawaban terhadap setiap hasil riset," pesannya.
Ia menguraikan, bahwa orientasi mahasiswa selama kuliah harus jelas, dan jangan hanya semata-mata mengejar nilai, melainkan juga penting untuk membangun karakter dan moral diri.
Diakuinya, bahwa karakter itu tidak bisa diajarkan oleh teknologi, melainkan dapat dibangun dari interaksi sosial dan proses perkuliahan yang dijalani.
Baca Juga: Pemerintah Pastikan Apotek Desa Didukung Tenaga Kefarmasian Profesional
"Pendidikan bukan hanya mencerdaskan, tapi juga membentuk manusia yang lebih baik dalam berbagai aspek. Dan kampus adalah wadah ideal untuk itu," ujarnya.
Sementara itu, salah satu mahasiswa UNY Andika Prasetya mengungkapkan, bahwa penggunaan AI sudah menjadi bagian dari proses belajar yang ia lakukan, khususnya dalam pengembangan bahan ajar dan ide kreatif.
"Saya pakai AI seperti ChatGPT untuk membantu brainstorm saat mengembangkan media pembelajaran. Tapi ide utamanya tetap dari saya. AI cuma bantu mengorganisasi dan merapikan," jelas Andika.
Secara garis besar, ia mengaku para dosen di UNY juga cukup terbuka terhadap penggunaan AI, asalkan tidak digunakan untuk menyalin mentah atau menghindari proses berpikir. Di mana, ia sendiri juga menyadari hal tersebut, termasuk sangat menghindari plagiarisme.
"AI itu seperti alat bantu, bukan jalan pintas. Kita tetap harus tahu dasar-dasarnya, bukan hanya hasil akhirnya," pungkasnya. (iza)
Editor : Heru Pratomo