SLEMAN - Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) melalui Fakultas Teknik menjadi tuan rumah konferensi internasional Southeast Asian Urbanism Studies (SEAUS) 2.0. Kegiatan yang mengusung tema Cultures in Transition: Urbanism and Landscapes in Southeast Asia ini, digelar di Sahid Raya Hotel & Convention Yogyakarta sejak 11-14 Juni.
Wakil ketua panitia SEAUS 2.0 Andi Prasetiyo Wibowo menyampaikan, acara ini merupakan lanjutan dari edisi perdana yang berlangsung di Ho Chi Minh City University of Architecture, Vietnam dua tahun lalu. Tahun ini, SEAUS 2.0 menghadirkan peserta dari berbagai negara. Seperti Singapura, Vietnam, Filipina, serta mitra dari KU Leuven, Belgia.
Acara ini turut mempertemukan berbagai disiplin ilmu. Seperti arsitektur, perencanaan kota, antropologi, hingga tata ruang. Sesi panel membahas sub-tema penting seperti decolonizing urban landscapes, dan participatory urbanism.
"Beberapa makalah hasil penelitian akan dipublikasikan dalam bentuk prosiding, dan yang kualitasnya tinggi akan kami upayakan masuk ke jurnal bereputasi," katanya saat ditemui di lokasi Rabu (11/6).
Selain seminar utama, kegiatan lainnya adalah workshop doktoral, dan tur budaya. Menyasar Kampung Code, Kampung Kauman, dan Kotagede pada 14 Juni. "Tur ini bertujuan memberikan pengalaman langsung terkait perubahan budaya dan lanskap urban," ungkapnya.
Sementara, workshop doktoral dirancang bagi mahasiswa program doktor dari berbagai negara yang tengah meneliti urbanisme dan lanskap Asia Tenggara. Peserta dibagi dalam dua kategori. Mereka yang baru merancang disertasi dan mereka yang sedang menulis hasil awal.
"Sesi ini memberikan ruang refleksi dan diskusi dengan berbagai masukan dari para pakar," ulasnya.
Baca Juga: Masa Peralihan Musim, DPKP DIY Tekankan Petani Selektif Pilih Tanaman dan Waspadai Hama
Peserta workshop Vero Laurencia menyebut, kegiatan ini membantu untuk merefleksikan risetnya dalam konteks yang lebih luas. “Terutama perubahan budaya dalam ruang kota," ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Vero juga banyak mendapat wawasan mendalam seputar isu-isu keberlanjutan. Kemudian soal pelestarian warisan budaya, serta interaksi antara manusia dan alam dalam pembangunan perkotaan.
"SEAUS 2.0 juga memperlihatkan kuatnya kolaborasi internasional yang sangat penting," tuturnya. (*/iza/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita