JOGJA - Fenomena perundungan atau bullying masih menjadi tantangan besar di lingkungan sekolah. Tidak hanya karena dampaknya yang merusak psikologis, tetapi juga karena masih lemahnya kesadaran kolektif untuk mencegah.
Melihat urgensi itu, tim mahasiswa Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) yang tergabung dalam Kelurahan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) UNY 11.0 menginisiasi kegiatan edukatif di SMPN 6 Jogja.
Mengangkat tema Merangkul Keberagaman, Stop Perundungan. Kegiatan ini menyasar 60 siswa dari berbagai kelas. "Fokus utamanya membangun empati lintas perbedaan dan membekali siswa dengan pemahaman tentang jenis-jenis bullying dan pencegahannya," kata ketua pelaksana kegiatan dari tim LPDP UNY Yanuar Khaldun Kamis (29/5).
Secara garis besar, bullying sendiri terbagi dalam beberapa bentuk. Yakni verbal seperti ejekan, penghinaan, dan fisik berupa pemukulan, dorongan. Kemudian sosial seperti pengucilan, penyebaran rumor, dan siber berupa perundungan melalui media digital.
"Meski berbeda bentuk, seluruh jenis ini memiliki satu kesamaan, yakni merusak martabat dan kesejahteraan mental korban," paparnya.
Menurut Yanuar, kegiatan ini merupakan salah satu bagian dari kontribusi mahasiswa untuk turut serta menciptakan ruang aman di sekolah.
"Kita ingin siswa punya keberanian untuk berkata tidak terhadap perundungan dan lebih peka terhadap lingkungan sosialnya," katanya.
Sementara itu, Ketua OSIS SMPN 6 Jogja Aena Zainahya menyebut, kegiatan tersebut sejalan dengan program OSIS. Ada tim pemantau yang memastikan tidak ada siswa jadi korban atau pelaku bullying. "Setiap hari keliling di titik-titik rawan, seperti kantin, belakang kelas, dan toilet," ujarnya.
Baca Juga: Usai Tertunda, Jalan Utama Waduk Sermo Kulon Progo Segera Mendapat Perbaikan Tahun Ini
Aena menuturkan, upaya pencegahan bullying bukan hanya tugas guru atau sekolah. Tetapi tanggung jawab bersama.
"Sekarang saya paham, bahkan ejekan kecil pun bisa berdampak besar buat teman kita," tuturnya. (iza/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita