JOGJA - Universitas Gadjah Mada (UGM) terus menegaskan komitmennya sebagai kampus kerakyatan yang inklusif, terutama dalam mendukung dan memfasilitasi mahasiswa disabilitas. Dukungan tidak hanya diberikan saat mereka telah menjadi mahasiswa, melainkan sejak tahap seleksi masuk.
Ketua Unit Layanan Disabilitas (ULD) UGM Dr Wuri Handayani mengungkapkan, hingga saat ini terdapat 43 mahasiswa disabilitas yang terdaftar secara resmi di kampus tersebut.
"Sebelum menjadi mahasiswa kami sudah mendampingi mereka, termasuk dalam proses seleksi seperti SNBP. Tahun ini, kami mencatat ada sekitar delapan peserta disabilitas di SNBP," katanya dalam sesi Pojok Bulaksumur UGM, Senin (19/5).
Baca Juga: Pemkab Gunungkidul Kejar Target 144 Koperasi Merah Putih, Baru 12 Terbentuk
Untuk diketahui, ULD yang dibentuk pada 20 Mei 2024 merupakan bentuk konkret komitmen kampus dalam memberikan layanan yang lebih sistematis dan berkelanjutan bagi mahasiswa disabilitas. Meski demikian, dukungan bagi mahasiswa disabilitas sudah berlangsung jauh sebelumnya melalui UKM Peduli Disabilitas yang telah aktif memfasilitasi ujian masuk selama beberapa tahun.
Wuri menerangkan, dalam prosesnya para mahasiswa disabilitas terdata oleh Direktorat Pendidikan dan Pengajaran (DPP) UGM. Lalu dari ULD akan konfirmasi ulang dan minta para mahasiswa melakukan self assessment.
Baca Juga: PSIM Jogja Akan Hadapi Persib Bandung di Laga Pembuka Liga 1 Musim Depan, Ini Pesan The Special Wan
"Itu untuk mengetahui jenis disabilitas, tantangan belajar, dan kebutuhan fasilitas. Setelah itu kami tindak lanjuti dengan pengecekan lapangan," jelas Wuri.
Sementara itu, Dosen Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan sekaligus Sekretaris Direktorat Kemahasiswaan (Ditmawa) UGM Dr Hempri Suyatna menekankan pentingnya pelibatan mahasiswa dalam advokasi. Termasuk dalam hal biaya pendidikan.
Baca Juga: Tak Seimbang, Lebih Banyak PNS Purnatugas di Sleman daripada PNS Baru
"Dialog selalu kami buka. Tidak boleh ada mahasiswa UGM yang tidak lulus hanya karena persoalan biaya. Termasuk teman-teman disabilitas ini," ucapnya.
Ia juga menyebutkan bahwa inklusivitas adalah bagian dari budaya kampus yang terus dikembangkan. UGM mendorong mahasiswa untuk terlibat dalam kegiatan lintas agama, ras, dan latar belakang, termasuk pelibatan mahasiswa disabilitas secara aktif.
Fasilitas kampus juga terus dimutakhirkan, seperti program pemberian laptop serta peningkatan aksesibilitas bagi pengguna kursi roda.
"Tentu masih ada yang perlu ditingkatkan, kami berkomitmen untuk bisa terus memperbaiki dan meningkatkan dengan baik," ulasnya.
Selanjutnya, mahasiswi disabilitas tuna daksa dari Fakultas Biologi UGM angkatan 2021 Anis Rahmatillah mengungkapkan, bahwa UGM telah memberikan dukungan signifikan dalam bentuk fasilitas dan pendampingan sejak awal.
Baca Juga: Pelaku Perusak Makam di Bantul Akhirnya Ditemukan, Pelajar dari Pringgolayan Bantuntapan
Anis menyadari betul, bahwa selain fasilitas dan layanan, hal krusial yang dibutuhkan teman-teman disabilitas adalah lingkungan yang mendukung.
"Lingkungan di UGM sangat suportif. Saya tidak pernah merasa berbeda, dan itu sangat penting bagi kami," katanya. (iza)
Editor : Sevtia Eka Novarita