Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Berkostum Ledhek Gogik, Bapak Mertua Beri Kejutan Menantunya saat Lulus S3 di Acara Wisuda UGM

Adib Lazwar Irkhami • Kamis, 24 April 2025 | 04:55 WIB

 

Budi Prasojo, 68 tahun, seniman Ledhek Gogik melintas di kompleks Kampus UGM Rabu (23/4).
Budi Prasojo, 68 tahun, seniman Ledhek Gogik melintas di kompleks Kampus UGM Rabu (23/4).

SLEMAN - Ada banyak cara dalam memberikan kejutan terhadap orang-orang terdekatnya saat diwisuda. Tapi yang dilakukan Budi Prasojo, 68, ini cukup unik, mengenakan kostum Ledhek Gogik ketika menantunya meraih gelar dokter bidang Subspesialis Geritri di UGM. 

Budi hadir di Grha Sabha Pramana UGM saat prosesi Wisuda Pascasarjana Periode III Tahun Akademik 2024/2025 Rabu (23/4). Pria paruh baya ini mengenakan kostum tradisional ala prajurit Kasultanan Jogjakarta dilengkapi boneka unik yang digendong di depan tubuhnya.

Budi Prasojo sendiri adalah seorang pensiunan guru SMA dan MTsN dari Pandean, Umbulharjo, Kota Jogja. Ia datang selaku ayah mertua dari seorang wisudawan dr Sarly Puspita Ariesta Sp.PD-KGer yang baru saja meraih gelar dokter di bidang Subspesialis Geriatri.

Kehadiran Budi dengan kostum uniknya bukan tanpa alasan. Ia mengaku telah bernazar untuk mengenakan kostum Ledhek Gogik jika anak menantunya berhasil meraih gelar doktor.

Boneka yang digendongnya pun dihias khusus dengan mengenakan surjan biru bermotif bunga, blangkon, dua samir UGM, dan foto sederhana di dada boneka yang menampilkan gambar diri anak mantunya beserta keluarga kecilnya. "Waktu anak saya (suami Sarly) lulus S3 saat pandemi Covid-19, saya tidak sempat memakainya. Sekarang nazar itu saya penuhi untuk menantu saya,"  ucapnya bangga.

Ledhek Gogik adalah kesenian tradisional yang hampir punah. Ledhek Gogik berasal dari kata "ledhek" yang berarti penari, dan "gogik" yang merujuk pada tiwul kering, makanan pokok masyarakat era 1960-an saat dirundung kelaparan.

Nama ini menggambarkan perjuangan rakyat dalam mencari sesuap nasi tiwul aking yang direbus ulang dengan kelapa yang kemudian dijadikan tarian hiburan sebagai bagian dari seni pertunjukan. "Saya ingin memperkenalkan kembali kesenian lama ini kepada masyarakat. Tarian ini juga bisa mengikuti irama apa saja," ujar Budi.

Ia menambahkan, saat ini hanya segelintir orang yang masih melestarikan Ledhek Gogik. Termasuk dirinya yang tergabung dalam Komunitas Desa Wisata Pandean, Kota Jogja.

Tidak berselang, oleh petugas wisuda mengajak Budi menuju lantai dua dan duduk di belakang panggung wisuda. Tidak lama kemudian, sang menantu diajak menemui ayah mertuanya.

 

Sarly, anak mantunya, mengaku terkejut melihat ayah mertuanya yang tampil dengan kostum Ledhek Gogik. Sarly mengungkapkan rasa terima kasihnya atas dukungan penuh dari keluarga dan suaminya yang juga meraih gelar S3 Elektro di UGM.

Dikatakan, bapak mertuanya itu memang mencintai budaya dan pernah mengambil peran menjadi dalang dan pemain ketoprak. "Bapak memang seniman. Beliau menyayangi saya seperti bapak saya sendiri," tuturnya penuh haru.

Kehadiran Budi di acara wisuda UGM bukan hanya sebagai bentuk dukungan keluarga, tetapi juga sebagai upaya melestarikan budaya dan tradisi yang hampir terlupakan.

Semangatnya menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk tidak melupakan akar budayanya. "Bekerja yang baik, berkeluarga yang baik, berwarganegara yang baik,"  pesan Budi terhadap anak menantunya itu. (aga/laz)

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#tradisional #UGM #kejutan #tiwul #mertua #kasultanan jogjakarta #boneka #Doktor #Ledhek #Nazar #kesenian tradisional #Ledhek Gogik #Grha Sabha Pramana UGM #Makanan Pokok #kostum #s3 #prajurit #menantu #subspesialis #wisuda #penari #geriatri