JOGJA - Inovasi dilakukan tim dosen Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) yang terangkum dalam sebuah program pengabdian masyarakat. Program itu diimplementasikan di Padukuhan Grujugan, Bantul.
Ketua Tim Pengabdian Zidni Husnia Fachrunnisa mengungkapkan, timnya menjalankan program yang fokus pada pengolahan minyak jelantah. Bekas minyak goreng ini kerap menjadi limbah dan mencemari lingkungan.
Ia menyadari pengelolaan sampah menjadi salah satu tantangan besar di DIY, khususnya dalam menangani limbah rumah tangga yang sulit terurai. "Menyikapi masalah ini, kami dosen dari Prodi Akuntansi UPY tergerak berkontribusi langsung lewat pengabdian kepada masyarakat," katanya kemarin (18/3).
Secara garis besar, Zidni merinci minyak jelantah yang dihasilkan oleh hampir setiap rumah tangga, biasanya dibuang begitu saja ke saluran air atau pun tanah. Ini yang mengakibatkan kerusakan pada ekosistem.
"Dari masalah itu, kami terpikir mengadakan pelatihan untuk mengolah minyak jelantah jadi produk bernilai jual yang berguna. Bentuknya lilin aromaterapi," paparnya.
Ia memaparkan, selain teori mengenai analisa peluang usaha berbasis limbah rumah tangga, para peserta yang seluruhnya ibu-ibu rumah tangga juga mempraktikkan proses pembuatan lilin aromaterapi dari minyak jelantah.
Secara proses, ia menerangkan minyak jelantah yang telah dijernihkan dicampur bahan-bahan lain. Seperti parafin, pewarna, dan aromaterapi untuk menghasilkan produk yang bernilai jual.
Menurut Zidni, produk lilin aromaterapi dari minyak jelantah memiliki potensi pasar yang cukup luas. Targetnya konsumen yang meliputi suvenir pernikahan, bingkisan, dan produk dekorasi lainnya.
"Namun produk ini juga menghadapi tantangan berupa kemudahan untuk ditiru. Jadi dibutuhkan kreativitas tinggi untuk pengembangan lebih lanjut," ulasnya.
Para peserta pelatihan juga diberikan pemahaman tentang analisis peluang usaha yang mencakup analisis pelanggan, pesaing, pemasok, vendor. Selain itu faktor-faktor eksternal lain seperti pengaruh pemerintah dan lingkungan global.
"Salah satu topik utama pelatihan ini analisis SWOT. Ini untuk membantu menganalisis kekuatan, kelemahan, kesempatan, dan ancaman yang dihadapi usaha ini," sebutnya.
Selanjutnya Zidni menyampaikan rencana tindak lanjut dari pengabdian masyarakat itu adalah dosen-dosen dari UPY akan melanjutkan pelatihan dengan fokus pada pengemasan produk dan pemasaran digital. "Ini dibutuhkan untuk membantu pengembangan produk lilin aromaterapi dan usaha berbasis limbah lainnya," serunya.
Penuturan lain datang dari Dukuh Grujugan Jenni. Ia mengaku senang dengan adanya pelatihan itu. Diakui, pelatihan pengolahan minyak jelantah belum pernah ada di tempat mereka sebelumnya. "Terima kasih atas ilmu yang diberikan, dan semoga ada kegiatan lanjutan," lontarnya.
Secara garis besar, selain dapat mengurai sampah, Jenni menyebut praktik itu juga bisa dikembangkan lebih lanjut untuk menjadi sebuah ide usaha berbasis limbah rumah tangga. Ia berharap dapat memanfaatkan sebagai peluang ekonomi.
"Selain memperluas wawasan peluang usaha, ini juga memberi solusi untuk mengatasi permasalahan sampah di lingkungan kami," ulasnya.
Sembari menunggu program lanjutan yang rencananya akan dilakukan setelah Lebaran, Jenni mengatakan para ibu-ibu juga berkeinginan menjajal praktik secara mandiri di rumah masing-masing.
"Para ibu-ibu sudah meminta catatan bahan-bahan dan tempat belinya sekaligus. Ini bisa dipraktikkan sendiri," ungkapnya. (iza/laz)
Editor : Sevtia Eka Novarita