JOGJA - Dalam rangka untuk memperingati 100 tahun Jemaat Ahmadiyah, Institute of Southeast Asian Islam (ISAIs) UIN Sunan Kalijaga dan Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) meluncurkan buku berjudul Agama Faktual: Pertarungan Wacana dan Dinamika Sosiologis Jemaat Ahmadiyah di Indonesia, karya akademisi UIN, yakni Mochamad Sodik dan Bernando J. Sujibto.
Moch Sodik selaku penulis menyampaikan, dalam proses riset dan pendalamannya, Wakil Rektor Bidang II UIN Sunan Kalijaga tersebut merasa, bahwa keterlibatan dirinya dengan komunitas dan jemaat Ahmadiyah sudah seperti keluarga sendiri. "Sejak kepentingan untuk S3 hingga pertemuan-pertemuan di banyak kesempatan dengan Ahmadiyah, sudah seperti keluarga," katanya, Rabu (12/3).
Baca Juga: Disnakertrans Bantul Terima Tiga Aduan THR, Akan Langsung Diteruskan ke Disnakertrans DIY
Secara garis besar ia mengharapkan, buku tersebut dapat menjadi pengkayaan bacaan bagi masyarakat luas, agar lebih mengenal Ahmadiyah secara lebih proporsional.
Secara umum, narasi dan berita-berita terkait Ahmadiyah di Indonesia masih didominasi oleh kekerasan, diskriminasi dan persekusi, gerakan toleransi menjadi keniscayaan yang tidak bisa dilalaikan oleh masyarakat. "Untuk itu, langkah-langkah konkret dibutuhkan untuk menjaga kedamaian di antara banyak aliran keagamaan di Indonesia," ungkapnya.
Rektor UIN Sunan Kalijaga Prof. Noorhaidi Hasan menekankan, soal pentingnya kesadaran kolektif tentang keberagaman sebagai masyarakat yang multikultur. "Ahmadiyah punya hak yang sama di depan hukum sebagai organisasi keagamaan yang dilindungi oleh konstitusi," paparnya.
Baca Juga: Kelurahan Wirogunan Perkenalkan Wajik Khas dalam Bazar Ramadan: Ini Makna Mendalamnya..
Sementara itu, perwakilan dari pengurus besar JAI Haryana Soeroer menyampaikan, agar para pemimpin negara dapat memahami makna perdamaian secara lebih utuh dan mendalam.
Haryana berharap bahwa pemerintah sudah semestinya memahami secara mendalam mengenai makna keberagaman itu sendiri. "Semua ini harus jadi kesadaran sejak dari elite pemerintahan demi menjaga perdamaian untuk semua warga negara di Indonesia," urainya.
Perwakilan Pengurus Besar JAI Mahmud Mubarik menambahkan, terkait realitas Ahmadiyah di Indonesia, yaitu terkait SKB Tiga Menteri yang dipersepsikan dan diperdebatkan terkait dengan pembatasan aktivitas Ahmadiyah.
Baginya, pangkal masalahnya ada pada ketidakpaham mereka dan tentu rasa takut juga. "Ahmadiyah apa sih? Agama baru, Ahmadiyah merusak, padahal kami menyebarkan kebenaran tentang Masih (Mau’ud)," tuturnya. (iza/pra)
Editor : Heru Pratomo