JOGJA - Tim Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) berupaya melakukan pemberdayaan kepada remaja tunanetra. Hal ini dilakukan untuk mendukung kesejahteraan psikologis para remaja yang memiliki hambatan penglihatan.
Inisiatif pemberdayaan tersebut dilakukan tim MyMental yang beranggotakan Annis Na’immatun dan Dzikrina Nur Faizah. Keduanya merupakan mahasiswa Magister Pendidikan Luar Biasa UNY. Serta Danang Pradana, alumni Pendidikan Sosiologi UNY.
"Kami lakukan pelatihan pada sekitar 25 peserta," kata Annis dalam agenda yang berlangsung di Aula Yayasan Kesehatan Tunanetra Islam (Yaketunis) Jogjakarta Selasa (25/2).
Annis menyebut, pelatihan yang dilakukan bertujuan untuk membekali remaja dengan pemahaman tentang kesehatan mental, dan kesejahteraan psikologis.
Dia berpandangan, hambatan penglihatan seperti tunanetra merupakan kondisi yang tidak bisa diubah. Hal yang bisa dilakukan adalah bagaimana merespons situasi tersebut. Dan untuk mencapai titik damai sekaligus penerimaan, perlu kesehatan mental yang bagus.
"Para peserta tersebut juga kami bekali beberapa materi soal kesehatan mental, serta keterampilan untuk meraihnya," lontarnya.
Disebutkan, pelatihan tersebut merupakan bagian dari proyek sosial yang didukung dan didanai oleh Pertamina Foundation (PF) melalui Program PF Muda.
Dia menyebut, program ini merupakan sebuah kompetisi inovasi proyek sosial yang menjadi ajang adu kreativitas gagasan anak muda Indonesia. "Tema besar gagasannya adalah untuk menuntaskan berbagai isu sosial di lingkungan sekitar," paparnya.
Baca Juga: New Honda PCX160 Jadi Idola Konsumen IIMS 2025
Sementara itu, salah satu psikolog yang digandeng oleh timnya sebagai narasumber adalah Siska Hamelia Putri. Siska menekankan, penting sekali untuk bisa memahami dan mengenali kesehatan mental dan kesejahteraan psikologis sejak dini.
"Kita perlu upayakan untuk mengenal diri kita sendiri lagi. Belajar mengetahui cita-cita, tahu tujuan kita, dan terbuka dengan pengalaman baru," pesannya.
Selain sesi edukasi, pelatihan ini juga menekankan pada kegiatan interaktif. Seperti praktik keterampilan mindfulness, diskusi kelompok, dan simulasi pemecahan masalah.
"Konsep yang interaktif dan partisipatif itu untuk mendorong peserta lebih aktif berpendapat, dan berbagi pengalaman serta mendukung satu sama lain," bebernya.
Penuturan lain datang dari salah satu peserta pelatihan Muhammad Sattar Al Barak. Menurutnya, kegiatan ini dapat menambah wawasan terkait kesehatan mental yang sangat diperlukan untuk para remaja. Terlebih para remaja memiliki kondisi tertentu seperti disabilitas.
"Semoga ini diadakan berkelanjutan, karena para remaja sangat perlu edukasi soal kesehatan mental," sebutnya. (iza/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita