JOGJA – Edukasi mengenai pencegahan dan penanganan kekerasan, baik fisik, verbal, hingga kekerasan seksual, menjadi perhatian banyak perguruan tinggi, termasuk Stikes Notokusumo Yogyakarta.
Kampus ini aktif dalam menciptakan lingkungan yang aman dan bebas dari segala bentuk kekerasan melalui Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Perguruan Tinggi (Satgas PPKPT).
Ketua Satgas PPKPT Stikes Notokusumo Catharina Apriyani menekankan, edukasi menjadi aspek krusial yang perlu dilakukan secara berkala kepada para mahasiswa di lingkungan kampus.
"Kami berkomitmen memastikan lingkungan kampus yang aman, inklusif, dan bebas dari kekerasan," katanya, Selasa (4/2/2025).
Dosen yang memiliki bidang keahlian Biologi Farmasi tersebut mengungkapkan, keberadaan Satgas yang sudah ada sejauh ini memainkan peran yang sangat penting dalam mencegah dan menangani segala bentuk kekerasan, mulai dari fisik, psikis, seksual, hingga diskriminasi dan intoleransi.
Menurutnya, mahasiswa perlu memahami mengenai batasan perilaku yang diperbolehkan dan tidak diperbolehkan hingga hal-hal yang mengarah kepada tindak kekerasan sangat penting untuk mencegah terjadinya pelanggaran.
“Karena itu, kami secara aktif melakukan sosialisasi lintas jurusan, dari Keperawatan, Keperawatan Ners, dan Farmasi,” ujarnya.
Dalam prosesnya, Satgas PPKPT juga secara aktif melakukan pendekatan yang melibatkan berbagai elemen kampus, seperti dosen, tenaga kependidikan, dan para mahasiswa.
Satgas membantu pimpinan perguruan tinggi dalam menyusun pedoman soal pencegahan dan penanganan kekerasan.
Pun juga melaksanakan edukasi mengenai kesetaraan gender, hak disabilitas, serta isu-isu penting lainnya.
"Jika ada kasus, kami juga tindaklanjuti laporan dan memantau implementasi rekomendasi dari hasil pemeriksaan," jelasnya.
Catharina berharap, dari sosialisasi dan edukasi yang diberikan secara berkala, diharapkan mahasiswa dapat mencegah kekerasan seksual.
"Semoga ini meningkatkan kesadaran dan mereka lebih paham bentuk-bentuk kekerasan seksual serta dampaknya," paparnya.
Sementara itu, salah satu mahasiswi Stikes Notokusumo Amalia Ananda mengakui, edukasi soal kekerasan di lingkungan kampus tersebut memang sangat dibutuhkan.
Menurutnya, semua orang harus memahami betul hal-hal yang berpotensi mengarah kepada kekerasan, utamanya kekerasan seksual.
"Termasuk verbal seperti cat calling, itu sangat mengganggu, dan semua orang perlu diedukasi," tegasnya.
Amalia juga menambahkan, sebagai lingkungan yang penuh dengan intelektualitas, lingkungan pendidikan sejatinya perlu memberi contoh dan edukasi nyata.
"Dari mahasiswa, dosen, dan semua elemen harus mencontohkan, dan berperilaku yang berpendidikan juga," tambahnya. (iza/wia)