JOGJA - Pengalaman akademik internasional jadi salah satu jalan memperluas wawasan dan membangun keterampilan lintas budaya. Momen itu dimanfaatkan oleh mahasiswa Program Sarjana Internasional (IUP) Studi Manajemen Universitas Gadjah Mada (UGM) Sekar Pramesti Ratri Maheswari.
Mahasiswi angkatan 2020 dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) ini berkesempatan untuk menjajal pengalaman global melalui program international exposure, ketika mengikuti Winter Short Program di Toulouse Business School, Prancis.
"Aku berangkat Januari 2024, alasan ikut program ini karena materi yang diajarkan fresh dan relevan dengan bidang yang aku pelajari," katanya, Senin (16/12/2024).
"Aku mengambil mata kuliah Cross Cultural and Global HR, karena sesuai dengan silabus mata kuliah di FEB UGM dan bisa di konversi SKS," sambungnya.
Sekar mengungkapkan, pengalaman ini sangat berharga baginya untuk belajar bersosialisasi dan berkolaborasi dengan teman-teman dari berbagai negara.
"Ini jadi tantangan karena harus memahami dan menyesuaikan diri di lingkungan yang berbeda," ungkapnya.
Lebih lanjut, tidak hanya mendapat pengalaman secara akademik di lingkungan kampus, Sekar juga merasakan pengalaman langsung bagaimana realita kehidupan mahasiswa asing ketika beradaptasi dengan lingkungan.
"Contohnya ketika mencari makanan yang cocok dengan lidah Indonesia, saya pergi ke restoran Turki atau India yang terkenal kuat pada rasa rempah-rempahnya," bebernya.
Dalam prosesnya, selama menjadi program ini, Sekar mengaku menghadapi sejumlah tantangan, salah satunya terkait bahasa. Ia merasakan dalam beberapa kesempatan harus berpikir lebih keras saat menjalani perkuliahan karena dosen menggunakan bahasa aksen Peru.
Sekar mengaku mendapat banyak pengalaman positif yang diperoleh saat mengikuti program ini. Ia merasakan softskill yang semakin meningkat membuatnya menjadi semakin adaptif, mahir untuk memecahkan masalah, beradaptasi, dan memahami konteks situasional.
"Aku mendapat banyak perspektif berbeda dan harus menyesuaikan diri. Namun pengalaman ini sangat berharga karena aku belajar untuk toleransi," kenangnya. (iza)
Editor : Sevtia Eka Novarita