JOGJA - Pencapaian membanggakan diraih oleh Nyi Raden Calvinca Naomi Poerawinata, ia baru saja menyelesaikan studi di dua universitas dalam waktu yang hampir bersamaan. Vinca berhasil lulus dari Fakultas Hukum UGM dan Maastricht University.
"21 November 2024 lulus dari program internasional Fakultas Hukum UGM. Lalu pada 5 Desember 2024 wisuda di European Law School, Maastricht University, Belanda," katanya, Minggu (15/12/2024).
Menyandang gelar double degree menjadi kebahagiaan baginya. Saat di UGM, ia mengambil konsentrasi Hukum Internasional. Sedangkan di Maastricht University, ia terdaftar di European Law School. Fokus mendalami sistem hukum di Belanda, Perancis, Jerman, Inggris dan untuk beberapa kasus di Amerika Serikat.
"Saya sangat bersyukur dan berterima kasih karena mendapat dua kesempatan ini," ungkapnya.
Baca Juga: Tak Pernah Ada Normalisasi dan Peninggian Tanggul, 2 Kalurahan di Lendah Jadi Langganan Banjir
Dia mengaku, proses belajar di dua perguruan tinggi bukan perkara mudah. Dalam mengikuti program gelar ganda, dia menempuh pendidikan di UGM pada tahun pertama, yaitu semester 1 dan semester 2. Lalu menempuh pendidikan di Maastricht University, Belanda semester 3 sampai semester 6.
Selanjutnya, pada pembelajaran semester 7 dan 8, dia kembali mengikuti pendidikan di Fakultas Hukum UGM. Lalu menyelesaikan skripsi dengan joint supervision dari UGM dan Maastricht University di tahun keempat.
"Setelah mengalami tahun-tahun sulit, namun aku yakini bahwa ini penuh manfaat," paparnya.
Baca Juga: Flyover Canguk Magelang Siap Difungsikan saat Nataru
Perlu diketahui, ia berhasil lulus dengan IPK 3,75 di dua universitas. Diakuinya, hal tersebut tidaklah mudah. Saat belajar di University of Maastricht, ia mengaku menggunakan metode pengajaran ala Socrates. Metode di mana mahasiswa harus menjawab berbagai pertanyaan-pertanyaan yang diberikan.
"Kami menyebutnya metode Problem Based Learning (PBL), pembelajaran berbasis masalah," ulasnya.
Menurut Vinca, metode ini sesungguhnya sulit. Meski begitu dengan metode ini melatihnya berpikir kritis dan mendorong kemandirian dalam belajar.
"Harus baca 80-100 halaman sebelum kelas, dan harus menyiapkan jawaban untuk studi kasus yang didiskusikan kolektif di kelas," tutur perempuan yang bercita-cita berkarier di PBB ini. (iza/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita