BANTUL – Makanan yang mendapatkan label halal, belum tentu dikategorikan thoyyib atau baik. Hal ini yang mendasari fokus penelitian Sabtanti Harimurti, dosen Prodi Farmasi UMY dengan judul Safeguarding Halalan-Toyyiban Standards: A Study on Critical Control Points in Agricultural Practices in Malaysia, Brunei and Indonesia.
Dia mencontohkan, ayam yang dikonsumsi oleh masyarakat. Tidak hanya memperhatikan proses penyembelihan yang sesuai syariat Islam. Namun juga soal pemeliharaan hingga proses pemberian makan.
Hal ini pun juga berlaku pada ikan yang menjadi sumber protein untuk konsumsi masyarakat muslim. “Riset kami mencari titik kritis dalam proses produksi makanan halal, mulai dari pemeliharaan ternak hingga proses penyembelihan, semuanya harus sesuai dengan syariat Islam,” ujarnya.
Penelitian ini akan melibatkan kolaborasi antara peneliti dari Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam dengan populasi muslim yang signifikan. Dengan latar belakang tersebut, mereka lebih waspada terhadap proses kehalalan makanan yang dikonsumsi.
"Riset dijadwalkan berlangsung hingga Oktober 2025, tidak hanya terbatas pada ayam saja, tetapi juga mencakup berbagai sumber makanan lain, termasuk produk perikanan," ungkapnya.
Riset ini pun, sudah berhasil meraih medali emas dan penghargaan khusus pada 4th Innovation Bank Challenge (IBC) 2024 di University Sains Islam Malaysia (USIM), Oktober lalu.
“Hasil riset semoga memberikan kontribusi signifikan dalam meningkatkan kesadaran masyarakat tentang kepastian makanan memenuhi standar halalan thoyyiban," harapnya. (gun/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita