JOGJA - Universitas Gadjah Mada (UGM) akan memasuki usia ke-75 tahun. Beragam rangkaian peringatan Dies Natalies kampus kerakyatan ini sudah berlangsung sejak Juni.
Sekretaris UGM Andi Sandi Antonius Tabusassa Tonralipu mengungkapkan, puncaknya akan dilakukan pada 19 Desember. Beragam kegiatan mulai dari perlombaan, seminar nasional, hingga pagelaran budaya akan disajikan dalam rangkaian Dies Natalies, sekaligus memperingati Lustrum ke-15 UGM.
Disebutkan, beberapa lomba meliputi UGM Trail Run, lomba tenis hingga lomba mancing. Sementara dari sisi budaya, akan menampilkan pentas ketoprak, merti kampus, dan pagelaran wayang kulit.
Selain itu, kata Andi, juga akan ada seminar nasional yang membahas soal Pengalaman Resolusi Konflik, Perdamaian: Masa depan demokrasi Indonesia, yang akan dilangsungkan di Balai Senat UGM, Kamis (28/11/2024).
"Akan hadir pak Jusuf Kalla sebagai keynote speaker dalam seminar tersebut," ujarnya dalam sesi diskusi Pojok Bulaksumur UGM, Selasa (26/11/2024).
Sementara itu, ketua panitia Dies Natalies ke-75 UGM Arie Sujito menekankan, rangkaian kegiatan Dies Natalies bukan sekadar rutinitas semata. Namun bagian dari inspirasi untuk menumbuhkan kreativitas dan tanggung jawab moral dalam membangun bangsa. Menurutnya, bangsa Indonesia saat ini membutuhkan konsolidasi kebangsaan cukup kuat.
Lebih lanjut Arie menambahkan, perayaan ini juga menjadi momentum untuk merefleksikan perjalanan panjang UGM. Dalam membangun bangsa dengan derap langkah yang lebih maju. Dari sisi inovasi dan dedikasi lebih tinggi untuk membangun semangat kebangsasan.
"Ini diwujudkan dengan mencetak generasi yang siap dengan tantangan global dan berkontribusi positif bagi bangsa dan masyarakat," urai Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Alumni ini.
Adapun, salah satu yang secara rutin dilakukan civitas akademika UGM saat Dies Natalies adalah Kirab Nitilaku. Kirab Nitilaku sendiri adalah agenda tahunan UGM serta keluarga alumni Universitas Gadjah Mada (KAGAMA), untuk mengenang sejarah kampus UGM.
"Nitilaku UGM ini tidak hanya mengingat romantisme semata, namun juga jadi refleksi soal akar kampus UGM," bebernya. (iza/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita