SLEMAN - Pertanian berkelanjutan jadi salah satu tujuan besar yang diupayakan Institut Pertanian Stiper (Instiper) Jogjakarta. Oleh karena itu, Instiper memperluas kemitraan dalam skala internasional lewat Sustainability of Agricultural Landscapes in Southeast Asia (SALSA).
Peneliti senior Instiper Dr Agus Setyarso mengungkapkan, proyek kolektif yang ambisius ini bertujuan memberi pemahaman yang lebih baik. Tentang mosaik lanskap di negara-negara kepulauan di Asia Tenggara. "Kerja sama dalam hal ini meliputi Malaysia, Indonesia, dan Filipina. Sebuah wilayah yang masih punya kekayaan keanekaragaman hayati," katanya Minggu (3/11/2024).
Baca Juga: Napoli 0-3 Atalanta, Ademola Lookman Tampil Gemilang Jebol Gawang Partenopei Dua Kali
Selain kekayaan hayati, Agus berujar, salah satu bagian penting dari lanskap tersebut adalah SDM. Manusia jadi bagian integral dari lanskap ini, dan praktik pertanian baru juga memengaruhi gaya hidup masyarakat.
Disebutkan, platform baru dalam kemitraan ini akan mempelajari bagaimana kemunculan petani kecil jenis baru, yang memanfaatkan teknologi digital lebih besar dibandingkan generasi sebelumnya dan memiliki ambisi berbeda.
Perlu diketahui, SALSA sendiri berisi lima mitra. Meliputi Universitas Filipina Los Banos (UPLB), Universiti Putra Malaysia (UPM), Institut Pertanian Stiper (Instiper) Indonesia, CIRAD, dan Southeast Asian Regional Centre for Studi Pascasarjana dan Penelitian Pertanian (SEARCA).
Sementara itu, Direktur Regional CIRAD Jean-Marc Roda menjabarkan, Asia Tenggara adalah salah satu pusat keanekaragaman hayati dunia. Ada serangkaian bentang alam kompleks yang berada di bawah tekanan besar dari aktivitas pertanian manusia.
"Keberlanjutan dan bentang alam tidak dapat dipisahkan, ini jadi potensi besar yang harus dijaga," pesannya.
Menurutnya, salah satu tujuan kemitraan ini adalah mengidentifikasi faktor-faktor perubahan, peluang dan risiko yang terlibat dalam munculnya perubahan. Hal ini berarti mempertimbangkan interaksi antara pertanian, hutan dan pemangku kepentingan serta tingkat tata kelola yang terkait.
"Ini juga penting bagi hubungan multilateral tiga negara, yang bertujuan membangun sistem pertanian lebih berketahanan dan berkelanjutan," paparnya.
Diakuinya, dengan mempertemukan peneliti, pengambil kebijakan, dan pakar pembangunan pertanian, SALSA bertujuan membangun solusi inovatif dan kebijakan publik jangka panjang, sekaligus mendorong pertukaran pengetahuan di tingkat regional.
"SALSA sebagai platform inovasi yang terbuka, sekaligus membuat lanskap pertanian dan hutan lebih tahan terhadap tantangan sosial-ekonomi dan lingkungan," lontarnya.
Penuturan lain datang dari Dekan Fakultas Pertanian dan Ilmu Pangan UPLB Prof Amado A Angeles. Dia memaparkan soal potensi kemajuan yang bisa dicapai dalam pengelolaan tanaman berkelanjutan.
Dia menyadari, adanya teknologi pertanian yang inovatif, akan sangat penting bagi masa depan bentang alam di Asia Tenggara dalam jangka panjang. "Selain teknologi, strategi tata kelola lanskap pertanian dan hutan juga harus dioptimalkan," tuturnya. (iza/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita