JOGJA - Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi UNY kembali merayakan Bulan Komunikasi 2024. Melalui pameran seni rupa Prasasti Volume 3 bertajuk ‘Harmonious Resonance’ di Langgeng Art Foundation, Mantrijeron, Kota Jogja. Pameran ini berlangsung pada 2-4 November 2024. Sebelumnya, penyelenggaraan pameran seni rupa Prasasti Volume 1 dan 2 sukses digelar.
Pameran seni ini memajang sebanyak 60 karya hasil kreasi mahasiswa Ilmu Komunikasi UNY dan partisipasi sejumlah mahasiswa perguruan tinggi lain. Seperti UIN Sunan Kalijaga, Universitas Gadjah Mada, Universitas Indonesia, dan ISI Surakarta.
Karya seni yang dipajang bertema mengenai isu kesehatan mental yang dikemas dalam beragam jenis karya. Mulai dari karya lukisan, seni instalasi, film, jurnalistik, dan fotografi.
Project Officer Bulan Komunikasi UNY 2024, Vania Casimira mengatakan, pameran Prasasti sendiri merupakan panggung apresiasi karya tahunan Ilmu Komunikasi. Pameran ‘Harmonious Resonance’ kali ini merupakan sebuah refleksi tentang peristiwa mental yang dialami masing-masing anggota keluarga.
Merujuk pada konsep keluarga, baik anak sulung, anak tengah, dan anak bungsu memiliki kompleksitasnya masing-masing. Seringkali ketiganya memiliki peristiwa mental yang berbeda. “Dalam setiap instalasinya menggambarkaan setiap individu mengalami peristiwa mentalnya dan cara mereka menghadapi kesehatan mental,” katanya, Sabtu (2/11/2024).
Dia menyebut, pameran ini menyoroti peran masing-masing individu di keluarga. Menurutnya, banyak keluarga yang cukup mengabaikan kondisi kesehatan mental anak-anaknya. Padahal lingkup paling kecil di masyarakat adalah keluarga.
“Di ilmu komunikasi kami memandang seni rupa sebagai media komunikasi juga. Esensi pameran ini untuk meningkatkan awareness terkait kesehatan mental dan itu melalui karya-karya yang diversitas juga,” jelas Vania.
Kepala Departemen Ilmu Komunikasi UNY Pratiwi Wahyu Widiarti mengapresiasi mahasiswanya yang memiliki kreativitas dan inovasi. Terutama di dalam domain ilmu komunikasi. Dia menyebut, tema kesehatan mental yang diangkat dalam pameran ini juga berkaitan dengan salah satu mata kuliah yang dia ampu, yakni psikologi komunikasi. “Jadi bagaimana komunikasi ditinjau dari psikologi. Kemudian muncullah karya-karya yang ditampilkan ini,” ujarnya.
Pratiwi menliai, sebagian besar mahasiswa yang berpameran ini mengangkat suatu kondisi mental yang diartikan sebagai sesuatu yang condong negatif. Di mana karya yang ditampilkan adalah kondisi mental yang memiliki keruwetan atau terbebani. Menurutnya, dalam kondisi ideal, kesehatan mental seharusnya menunjukkan mental yang sehat. “Kita lebih harus menitikberatkan pada kondisi di mana (mental, Red) kita tidak terganggu,” ucapnya.
Meski demikian, menurutnya pameran seni rupa ini bisa menjadi salah satu medium komunikasi. Meskipun pamerisnya bukanlah mahasiswa seni. Sebab baginya, kesenian adalah media bagi semua orang untuk meluapkan atau mempresentasikan diri mereka. “Jadi memang sangat penting, kalau tidak ada art, nanti hidupnya garing,” kata Pratiwi. (tyo/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita