BANTUL - Program double degree atau metode untuk mendapat dua gelar akademis dari dua institusi pendidikan tak lagi menjadi hal baru. Namun bagi UMY, baru akan menginisiasi program serupa. Melalui International Program of Islamic Economics and Finance (IPIEF).
Kepala IPIEF UMY Dimas Bagus Wiranatakusuma mengungkapkan, adanya program double degree tersebut jadi langkah strategis UMY dalam memfasilitasi minat dan menciptakan karakter mahasiswa. Utamanya mereka yang berjiwa bisnis, sesuai dengan ranah gerak IPIEF.
"Kami baru mulai inisiasi program double degree bersama Mindanao State University-Iligan Institute of Technology (MSU-IIT) di Filipina," katanya Kamis (31/10/2024).
Kerja sama yang dilakukan oleh IPIEF UMY dengan College of Economics, Business and Accountancy MSU-IIT saat ini masih dalam proses penyelarasan mata kuliah. "Termasuk juga soal kesepakatan terkait hal teknis selama program berlangsung," ungkapnya.
Kedua belah pihak, kini tengah menyusun langkah berikutnya untuk melakukan penandatanganan Memorandum of Agreement (MoA). "Setelah seluruhnya disepakati, kerjasama double degree ini dapat segera dimulai di tahun ajaran depan," harapnya.
Selain akan mendapat gelar di bidang bisnis, lanjutnya, paparan internasional di program ini juga bisa memperluas wawasan mahasiswa di lingkup global. Dimas menyampaikan, UMY dan MSU-IIT memiliki kesamaan tujuan dalam membentuk profil sarjana ekonomi. “Tidak hanya fokus untuk menjadi analis namun juga pengusaha,” sebutnya.
Secara garis besar, Dimas menginginkan agar para mahasiswanya dapat memperkaya pemahaman dan pengalaman tentang dunia bisnis dan manajemen. "Kalau hanya paham fungsi ekonomi makro dan mikro. Itu sebatas teori jika tidak diejawantahkan di lapangan melalui pengelolaan bisnis," ujar Dimas.
Dia menyadari betul, pemahaman ilmu ekonomi yang dikaitkan dengan kemampuan berbisnis menjadi kompetensi bagi para sarjana ekonomi yang berdaya saing. "Jika melihat trennya, di masa depan ekonomi akan menjadi lebih praktis, implementatif dan berdampak ketika dibarengi dengan pemahaman bisnis," bebernya. (iza/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita