JOGJA - Bidang eksakta jadi hal yang disukai Nadya Ursula Sarasdewi. Mahasiswi prodi Matematika, Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Sanata Dharma (USD) Jogjakarta angkatan 2022 ini banyak mempelajari hal-hal tersebut.
Tak hanya fokus mempelajari, Nadya juga menyibukkan diri dengan ragam lomba. Teranyar, ia baru meraih juara 3 Kompetisi Menulis Kategori Mahasiswa S1. Bertema Memberdayakan Pemimpin Masa Depan: Peran Pendidikan Berkualitas dan Inovasi dalam Mencapai Ekonomi Berkelanjutan.
"Agenda ini digelar SDG Academy Indonesia bersama Pemimpin.id, dalam rangka peringatan Hari Literasi Internasional dan Konferensi Tahunan SDGs 2024," katanya, Senin (28/10/2024).
Nadya berujar, kompetisi menulis tersebut dilakukan setiap tahun, dan terbagi dalam dua tahap. Peserta diminta menulis artikel berisi ide, opini, inovasi, dan praktik. Ditawarkan dalam mewujudkan ekonomi berkelanjutan melalui peningkatan kualitas pendidikan dan inovasi.
Disebutkan, tulisan harus mencakup tiga tujuan dalam pembangunan berkelanjutan. Yakni tujuan pendidikan berkualitas, pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, serta tujuan industri, inovasi dan infrastruktur.
"Kompetisi ini berskala nasional dan diikuti masyarakat umum untuk kategori publik, dan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia untuk kategori S1," ungkapnya.
"Saya bersyukur bisa jadi salah satu finalis sekaligus pemenang dalam kompetisi menulis ini," sambungnya.
Diakuinya, mengikuti lomba di tengah-tengah padatnya kegiatan menjadi tantangan bagi Nadya. Ia menekankan, perlu manajemen waktu yang baik agar dapat terselesaikan.
Baca Juga: Nilai NJOP Tanah YIA Turun Drastis, PBB P2 YIA Pasca Perhitungan KJPP Hanya Sebesar Rp 16 Miliar
"Awalnya saya hopeless karena merasa kurang optimal presentasi. Tidak menyangka nama saya terpilih jadi salah satu pemenang. Senang sekali gagasan saya diterima baik oleh para juri," serunya.
Diakuinya, ia memang suka mengekplorasi hal-hal baru, baik bidang eksakta seperti jurusan kuliahnya, atau bidang ilmu lain non-linear. Ia menyadari betul, bahwa belajar bisa dari berbagai disiplin ilmu.
"Contoh lomba ini, berbeda dengan bidang kuliah saya, ini kesempatan untuk memperluas wawasan, khususnya dalam dunia pendidikan," serunya.
"Ini juga membuktikan bahwa pembelajaran tidak terbatas pada satu disiplin ilmu," sambungnya.
Dalam kompetisi itu, Nadya menuliskan gagasan soal Project Based Learning Economic STEAM (PBL Eco-STEAM). Ide ini berawal dari masalah pendidikan masa depan di era globalisasi yang menuntut generasi menjadi agent of change.
Ia berujar, implementasi PBL Eco-STEAM jadi kunci dalam membentuk kompetensi peserta didik. Terutama dalam berpikir kritis dan kreatif. Program ini disusun secara spesifik, relevan dan berbasiskan waktu dengan capaian yang terukur.
"PBL Eco-STEAM bisa jadi tempat memperoleh pendidikan berkualitas," ungkap mahasiswi asal Jogjakarta ini. (iza/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita