Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Gejala Iklim Berubah-ubah, Pakar UGM Djati Mardiatno Ajak Pemerintah dan Masyarakat Lakukan Mitigasi Kekeringan

Fahmi Fahriza • Kamis, 26 September 2024 | 06:45 WIB

 

Pakar Mitigasi Bencana dari Fakultas Geografi UGM Djati Mardiatno
Pakar Mitigasi Bencana dari Fakultas Geografi UGM Djati Mardiatno

SLEMAN - Pemanasan global yang terus terjadi, secara signifikansi menyebabkan perubahan iklim. Hal ini, akhirnya juga berdampak pada siklus musim maupun cuaca yang tak menentu.

Pakar Mitigasi Bencana dari Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM) Djati Mardiatno mengatakan, salah satu dampak yang terjadi dari fenomena tersebut adalah kekeringan. Di mana, kekeringan jadi kondisi alam yang tidak dapat dihindari oleh negara tropis seperti Indonesia. 

Merujuk prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Djati berujar kekeringan akan terjadi lebih panjang pada tahun 2024, yang diperkirakan terjadi mulai Mei sampai Oktober. "Kondisi iklim Indonesia juga menunjukkan gejala la nina yang lemah," katanya, Rabu (25/9/2024).

 Baca Juga: Jadi Holding BUMN Farmasi, Bio Farma Group Tawarkan Layanan Kesehatan Terintegrasi

"Artinya, curah hujan menurun, dan masyarakat hanya bisa mengandalkan sumber air tanah beberapa bulan ke depan," sambungnya.

Dia menerangkan, perubahan iklim yang dinamis ini salah satunya disebabkan kondisi geografi dan hidrogeologi Indonesia yang beragam. Menurut Djati, hal ini menyebabkan beberapa tempat mengalami kekeringan. Sedangkan tempat lain belum dapat dikategorikan sebagai bencana kekeringan. 

 Baca Juga: Hasil Uji Laboratorium soal Keracunan di Tiga Lokasi Bantul karena Adanya Bakteri dan Jamur pada Makanan

Djati mencontohkan, daerah Gunungkidul dan Nusa Tenggara Timur jadi daerah yang dikenal sulit mendapat sumber air. Apalagi saat musim kemarau melanda. Bahkan di daerah tersebut, musim kemarau berlangsung lebih panjang dibanding wilayah lain.

Disebutnya, untuk menilai suatu daerah punya potensi kekeringan atau tidak, harus memperhatikan tipe dan zona iklim regional. Kemudian material penyusun geologis, serta sistem alam yang terdapat di suatu daerah tersebut. "Selain itu, perubahan iklim juga memengaruhi curah hujan yang turun di beberapa daerah di Indonesia," paparnya.

 Baca Juga: Dua Penipu Modus Gandakan Uang Dibekuk Polresta Sleman, Empat Orang Lainnya Masih Buron

Diakuinya, salah satu sektor penting yang dirugikan dari perubahan iklim adalah pertanian. Sebab, saluran irigasi jadi unsur penting yang menggerakkan sektor ini. Tanpa pengairan yang cukup, tanaman tidak akan bisa tumbuh dan sawah akan mengering. 

"Hal ini akan berimbas pada kelangkaan stok bahan pangan dan kenaikan harga sembako," ujarnya memperingatkan. 

Secara pribadi, Djati mengimbau pemerintah dan masyarakat untuk mengantisipasi datangnya kemarau panjang. Untuk menghadapi musim kemarau, pengairan sawah harus diusahakan tidak bergantung hanya kepada air hujan. 

 Baca Juga: Bukan Sekedar Saksi Bisu Sejarah Peristiwa G30S PKI: Museum Lubang Buaya Punya Kisah Misteri, Ada Penampakan Hantu...

Kata Djati, pemerintah bisa membangun sistem irigasi yang berasal dari sungai, danau, mapupun embung. Di sisi lain, apabila kondisi geologis suatu wilayah tidak terdapat sumber air alami, antisipasi dapat dilakukan dengan penanaman komoditas yang tidak membutuhkan banyak air.

"Untuk menghadapi ancaman kekeringan, cara paling mudah dilakukan adalah penyediaan air oleh pemerintah setempat," pesannya.

"Setiap tahunnya, ratusan ribu bahkan jutaan liter air bersih telah dikerahkan untuk menangani bencana kekeringan," sambungnya.

Selain itu, dia menjelaskan juga ada cara lain yang dapat dilakukan pemerintah selama musim kemarau berlangsung, termasuk pengadaan pemompaan air tanah. "Gunungkidul misalnya, daerah tersebut memiliki potensi air tanah yang dapat dimanfaatkan," tandasnya. (iza/eno)

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#pemanasan global #Perubahan Iklim #Fakultas Geografi UGM #Djati Mardiatno #siklus musim #Pakar Mitigasi Bencana