SLEMAN – Salah satu indikator sebuah negara maju adalah terdapat keseimbangan antara porsi pendidikan vokasi dengan pendidikan akademik seperti sarjana. Namun di Indonesia, eksistensi pendidikan vokasi beru 8-10 persen.
Kalah jauh jika dibandingkan dengan porsi pendidikan vokasi di Jerman, Korea, maupun Jepang. “Mereka 40-50 persen. Memang itu idealnya,” beber Ketua Konsorsium Perguruan Tinggi Vokasi (PTV) DIY dari Program Penguatan Ekosistem Kemitraan Wiryanta saat sesi media bootcamp di gedung Teaching Industry Learning Center (TILC) Sekolah Vokasi UGM Rabu (11/9/2024).
Padahal dia menyadari, kebutuhan dunia saat ini sudah semakin kompleks. Dibutuhkan lulusan atau sumber daya manusia (SDM) yang memiliki skillset komplet. Baik secara teori maupun praktik. Secara garis besar, sekolah vokasi sendiri memiliki peranan penting untuk mencetak para SDM tersebut.
"Kurikulumnya kami buat bersama industri, agar ada kesesuaian antara kebutuhan industri dan kompetensi lulusan dari sekolah vokasi," ucap Wakil dekan bidang penelitian dan pengabdian masyarakat Sekolah Vokasi UGM ini.
Menurutnya, lulusan vokasi dituntut tidak hanya dapat ijazah. Tetapi juga dapat sertifikasi kompetensi keahlian khusus. “Itu juga sudah kami lakukan," lanjutnya.
Baca Juga: Pawai Budaya SMPN 1 Jogja Berlangsung Meriah, Siswa Kenakan Berbagai Baju Adat Khas Indonesia
Untuk wilayah DIY sendiri, dia merinci bahwa kebutuhan maupun kualitas pendidikan vokasi sudah cukup baik. Salah satu indikatornya adalah dengan adanya konsorsium yang berisi beberapa sekolah tinggi vokasi. "Di konsorsium ada Sekolah Vokasi UGM, Fakultas Vokasi UNY, serta Akademi Komunitas Negeri Seni Budaya Jogjakarta," bebernya.
Oleh karena itu, Konsorsium PTV DIY bersama Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM menggelar festival vokasi DIJ, bertajuk Inovokasia. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan awareness pendidikan vokasi. "Vokasi dan industri itu dua hal tak terpisahkan, sekarang kita sedang gencarkan pertumbuhan keduanya," tegasnya.
Sementara Direktur Kemitraan dan Penyelarasan Dunia Usaha dan Dunia Industri Dirjen Vokasi Kemendikbudristek RI Adi Nuryanto menyadari, sinergitas antara dunia industri dan pendidikan vokasi tidak bisa dipisahkan. "Harapannya mitra industri selalu berperan aktif dan menjadi bagian dari pendidikan vokasi di Indonesia," ungkapnya.
Sebab, secara proyeksi, Indonesia juga terus menambah lulusan dari program pendidikan vokasi. "Peningkatan jumlah peserta didik vokasi di Indonesia harus diimbangi dengan peningkatan jumlah lapangan kerja yang tersedia," harapnya. (iza/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita