RADAR JOGJA - Gelanggang Inovasi & Kreativitas Universitas Gadjah Mada (GIK UGM) sukses menyelenggarakan acara perdana bertajuk "GIK Menyapa" yang berkolaborasi dengan Kedutaan Besar Australia.
Mengusung tema "Inovasi Festival Budaya di Era Teknologi", acara ini membuka dialog penting mengenai bagaimana teknologi dapat memperkaya dan mengembangkan festival budaya di Indonesia.
Acara yang berlangsung di Student Center GIK UGM ini dipandu oleh Alfatika Dini, Kepala Kantor Urusan Internasional UGM, dan menghadirkan diskusi berbobot bersama Dr Oki Rahadianto, Direktur Youth Studies Centre Fisipol UGM, serta Cameron Frost, Country Manager Megatix Indonesia.
Mereka membahas pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan keterlibatan generasi muda dalam festival budaya serta strategi kolaborasi antara lembaga pendidikan, komunitas, dan industri kreatif.
"GIK Menyapa" tidak hanya dihadiri peserta secara langsung, tetapi juga menjangkau audiens lebih luas melalui siaran langsung di Instagram Live dan kanal YouTube GIK UGM, menunjukkan komitmen GIK UGM untuk memperluas jangkauan dan dampak positif dari acara ini.
Chief Program Officer GIK UGM Garin Nugroho mengungkapkan, antusiasmenya terhadap kolaborasi ini, Australia dan Indonesia memiliki banyak kesamaan budaya dan potensi kolaborasi yang besar.
Di era digital ini, inovasi teknologi menjadi kunci untuk memajukan industri kreatif. GIK UGM siap menjadi wadah bagi terjalinnya kerja sama yang bermanfaat bagi kedua negara.
"Kolaborasi dengan Kedutaan Besar Australia menjadi langkah strategis bagi GIK UGM untuk memperkuat posisinya sebagai pusat inovasi dan kreativitas.” katanya dalam keterangan rilis Jumat (7/6/2024).
Acara perdana "GIK Menyapa" ini menjadi tonggak awal bagi GIK UGM dalam merealisasikan visinya sebagai pusat kolaborasi, inovasi, dan kreativitas.
Melalui acara-acara serupa di masa mendatang, GIK UGM berharap dapat terus berkontribusi dalam pengembangan industri kreatif dan festival budaya di Indonesia.
"Kami berharap acara "GIK Menyapa" ini dapat memberikan inspirasi dan wawasan baru bagi para pelaku industri kreatif dalam memanfaatkan teknologi untuk memperkaya festival budaya di Indonesia," harapnya.
Direktur Youth Studies Centre Fisipol UGM Dr Oki Rahadianto menambahkan, festival budaya dapat menjadi ruang ekspresi bagi anak muda yang lebih berorientasi global.
Teknologi digital memfasilitasi pemuda dalam menyebarkan pesan nilai festival budaya secara lebih luas.
Dan dapat meningkatkan karakteristik multigenre di Jogja untuk membantu menyebarkan pesan festival.
"Anak muda sekarang sangat sadar berpartisipasi dalam festival budaya untuk mendidik diri mereka sendiri," jelasnya.
Country Manager Megatix Indonesia Cameron Frost, juga menekankan pentingnya teknologi dalam meningkatkan pariwisata internasional melalui festival budaya.
"Strateginya dengan meningkatkan awareness, membangun jaringan untuk mendukung promotor festival dan memanfaatkan teknologi untuk inovasi," tambahnya.
Editor : Winda Atika Ira Puspita