RADAR JOGJA - Kondisi pangan global sedang tidak baik-baik saja. Ada berbagai faktor yang menjadi pemicu dari kondisi tersebut. Mulai dari Covid-19 hingga el nino yang berkepanjangan.
Bahkan saat ini, sekitar 60 negara atau 900 juta penduduk mengalami krisis pangan. Alhasil, harga pangan pokok melejit.
Sejak akhir 2023, harga pangan pokok, terutama beras terus mengalami kenaikan. Pemerintah terus berupaya agar krisis pangan tersebut tidak menghantui Indonesia. Untuk itu, Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Kementerian Pertanian (Kementan) siap menggelar Training of Trainers (TOT).
TOT bertajuk ‘Gerakan Antisipasi Darurat Pangan Nasional’ bagi Widyaiswara, Dosen, Guru, Penyuluh Pertanian dan Bintara Pembina Desa (Babinsa) itu bakal dilaksanakan pada 2-4 Mei 2024 mendatang.
Tujuannya untuk meningkatkan pemahaman peserta dalam peningkatan produksi padi. Khususnya melalui optimalisasi lahan rawa dan pompanisasi di lahan sawah tadah hujan. Serta pemanfaatan lahan perkebunan.
Menteri Pertanian Amran Sulaiman menilai, sektor pertanian dan sumber daya manusia (SDM) digadang-gadang dapat menjadi tulang punggung penggerak pembangunan Indonesia.
SDM pertanian mulai dari penyuluh hingga petani harus bergerak cepat dalam mengambil bagian untuk menjaga ketahanan pangan.
"Krisis pangan sama dengan krisis keamanan dan politik. Pangan adalah senjata kita, dan kita harus menekan impor bahkan harus bisa menyetop impor, kita harus ekspor," ungkap Amran.
Sementara itu, Kepala BPPSDMP, Kementan Dedi Nursyamsi mengutarakan, fenomena el nino dan la nina berimbas pada menurunnya produktivitas pertanian di Indonesia. Hal ini karena pertanian sangat sensitif terhadap iklim, suhu, hujan, kelembapan, cahaya matahari, hingga perubahan iklim.
Akibatnya, produksi beras nasional pada 2023 menurun signifikan. Padahal padi merupakan salah satu komoditas yang strategis. Di saat yang sama, ada pertambahan jumlah penduduk sekitar 1,1 persen atau 400 ribu jiwa. Praktis kebutuhan beras turut meningkat.
Tingginya permintaan masyarakat terhadap komoditas ini harus diantisipasi dengan mengenjot produksi pertanian demi mencukupi kebutuhan dalam negeri. Selain itu, petani dapat meningkatkan areal tanam dan luas tanam.
Untuk itu, Kementan akan menggenjot produksi padi melalui peningkatan areal tanam. Dengan mengusung tiga program strategis dan perlu adanya inovasi baru. Dengan adanya lahan di rawa maupun sawah, petani dapat meningkatkan indeks tanaman.
"Kita lakukan optimasi lahan (oplah) rawa dengan merehabilitasi jaringan tersier, sekunder, memperbaiki pintu air, gorong-gorong, dan tanggul. Sehingga memperlancar tata air dan lahan rawa yang satu kali bisa dua kali," ungkapnya saat konferensi pers, Kamis (25/4/2024).
Dengan kondisi tersebut, Kementan getol untuk memberikan pemahaman kepada penyuluh hingga petani dalam menggenjot produktivitas pertanian. Satu di antaranya dengan mengadakan TOT Gerakan Antisipasi Darurat Pangan Nasional.
Kegiatan tersebut akan digelar secara tatap muka di Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Binuang. Selain itu, juga diselenggarakan secara daring di UPT Pelatihan Pertanian, Kantor Dinas Pertanian Provinsi dan Kabupaten/kota, Balai Penyuluhan Pertanian (BPP), dan Kantor Koramil di seluruh Indonesia.
Dedi berharap, melalui TOT tersebut, dapat saling bersinergi untuk meningkatkan kualitas pelatihan pertanian. Yang bisa berkontribusi terhadap kemajuan pertanian di Indonesia secara berkelanjutan.
"Dukungan sarana dan prasarana ditujukan pada proses hulu sampai hilir, dari penyiapan lahan sampai pengolahan. Pada setiap proses ini, upaya peningkatan kapasitas SDM juga terus dilakukan," imbuhnya.
Editor : Heru Pratomo