Koordinator Umum Organisasi Serikat Mahasiswa Indonesia Cabang Jogjakarta Rian Santula menyatakan, aksi sebagai momentum satu dekade pemberlakuan UKT di Indonesia. Dia menilai, sistem UKT selama 10 tahun pada akhirnya menimbulkan gejolak bagi masyarakat miskin dalam mengenyam pendidikan tinggi di kampus negeri.
“Kemudian tidak mampu membayar kuliah itu sendiri dengan beberapa golongan yang kita lihat walau nominal kecil, bagi mereka itu cukup besar. Seperti kejadian almarhumah Riska (mahasiswa UNY yang meninggal di tengah perjuangan melawan sakitnya dan berjuang bisa membayar UKT, Red),” ungkap Rian di sela aksi ujuk rasa.
Menurutnya, bukan hanya almarhumah Riska. Tetapi masih banyak mahasiswa yang berjuang untuk bisa mendapatkan kuliah gratis hingga keringanan biaya kuliah. Baik di perguruan tinggi negeri maupun swasta. Dari data yang dihimpun, ada 4.000-an lebih kampus di Indonesia, 90 persen atau 3.000-an lebih didominasi kampus swasta.
“Dengan melihat seperti itu, negara kemudian lepas tanggung jawab dengan konsep perguruan tinggi negeri badan hukum (PTNBH). Ini kan UNY sudah menerapkan hal demikian PTNBH sendiri. Artinya negara harusnya bertanggung jawab memberikan pendidikan itu. Bukan dalam bentuk beasiswa dengan beberapa hal itu, tapi langsung memberikan gratis kepada teman-teman mahasiswa,” ujarnya.
Dengan adanya PTNBH, dikatakan, kampus memiliki otonomi melakukan pengelolaan keuangannya sendiri. Dia menilai kebijakan PTNBH pada kampus negeri tak ada beda dengan kampus swasta yang diberikan otonomi kampus itu sendiri. Hal ini seolah negara lepas tangan dengan label PTNBH itu.
Aksi kali ini disebutnya sebanyak 40 mahasiswa gabungan dari sejumlah kampus. Antara lain, Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa APMD, Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST), Universitas Widya Mataram (UWM), Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga (UIN Suka), Universitas Janabadra Jogjakarta dan Universitas Alma Ata.
“Ini aksi solidaritas mendukung perjuangan mahasiswa di UNY dalam hal penuntutan soal perbaikan sistem UKT. Menurut data UNY Bergerak, sekarang ada 1.000 mahasiswa UNY yang mengalami kesulitan UKT. Menurut saya lebih baik kita perjuangkan hal ini,” beber Ganta Semendawai. (mel/laz) Editor : Editor Content