BANTUL - Kemudahan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam menjawab berbagai pertanyaan menjadi tantangan baru bagi dunia pendidikan. Siswa berisiko terbiasa menyalin jawaban instan tanpa memahami materi jika teknologi tersebut digunakan tanpa kontrol. Karena itu, guru di Kabupaten Bantul diminta memperkuat kemampuan berpikir kritis dan argumentatif siswa dalam proses pembelajaran.
Plt Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Bantul Titik Sunarti Widyaningsih mengatakan, penggunaan AI untuk mengerjakan tugas perlu disertai pemahaman mengenai etika pemanfaatan teknologi dan risiko plagiarisme. "Misalnya dengan penggunaan ChatGPT dan sebagainya, pemanfaatannya juga harus dipahami betul oleh guru," ujar Titik Selasa (20/10).
Baca Juga: Ketua DPRD Gunungkidul Minta Endah-Joko Jaga Kekompakan, Harap Polemik Tak Ganggu Pemerintahan
Menurut dia, guru perlu memberikan pemahaman mengenai batasan penggunaan AI agar siswa tidak sekadar menyalin hasil yang dihasilkan teknologi tersebut. Selain etika pemanfaatan AI, siswa juga perlu memahami etika bermedia sosial serta dampak plagiarisme terhadap proses belajar.
Penggunaan AI secara langsung tanpa mengolah dan memahami jawaban dapat menghambat perkembangan kemampuan berpikir siswa. Karena itu, guru perlu mendorong siswa menyampaikan pendapat, menggali informasi lebih dalam, dan menyusun argumentasi berdasarkan pemahaman sendiri.
"Harapan kami, anak-anak cenderung ke arah berpikir argumentatif. Tidak sekadar apa yang ditulis, nanti ada penggalian lebih dalam lagi," ujarnya.
Baca Juga: Kebakaran Hutan Meluas, Jalur Pendakian Gunung Sumbing di Magelang Ditutup
Titik menjelaskan, penguatan kemampuan berpikir kritis sejalan dengan pendekatan pembelajaran mendalam yang menekankan proses belajar bermakna. Pendekatan ini sebenarnya telah diterapkan, tetapi pelaksanaannya perlu terus diperkuat agar siswa tidak hanya berorientasi pada hasil akhir.
"Menggali pembelajaran itu lebih bermakna kepada anak-anak. Di situ pendekatannya termasuk berpikir kritis," katanya.
Guru pun didorong menyusun pertanyaan yang lebih kritis dan menggali pemahaman siswa terhadap jawaban yang disampaikan, termasuk ketika mereka menggunakan AI sebagai alat bantu belajar. Dengan begitu, siswa tidak hanya menghasilkan jawaban, tetapi juga mampu menjelaskan proses berpikir yang mendasarinya.
Pengalaman di kelas menunjukkan tantangan tersebut mulai dirasakan guru. Bima Putra, guru honorer SMP asal Imogiri, menilai AI memberikan kemudahan dalam pembelajaran, tetapi juga berpotensi membuat siswa terlalu bergantung pada jawaban instan.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, Bima membatasi penggunaan AI dalam pembelajaran. Ia meminta siswa menjelaskan kembali maksud jawaban yang diberikan dan mengajukan pertanyaan lanjutan untuk menguji pemahaman serta kemampuan mereka menyusun argumentasi. "Agar anak-anak itu tidak terlalu tergantung pada AI," ujar Bima.
Menurut Bima, siswa tidak cukup hanya mampu menghasilkan jawaban yang benar. Mereka juga harus memahami isi jawaban dan mampu mempertanggungjawabkannya melalui penjelasan sendiri. Kemampuan berargumentasi pun terkadang masih bergantung pada jawaban yang dihasilkan AI sehingga pembelajaran perlu dibuat lebih interaktif.
Ia membandingkan kondisi saat ini dengan proses belajar sebelum AI banyak digunakan. Dahulu, siswa perlu mencari materi melalui buku dan berbagai sumber bacaan. Kini, jawaban dapat diperoleh hanya dengan mengetikkan pertanyaan ke dalam aplikasi AI.
Kemudahan tersebut, menurut dia, berisiko membuat siswa terbiasa mengambil jalan pintas. Dampaknya tidak hanya berkaitan dengan proses belajar dan nilai di sekolah, tetapi juga kemampuan menghadapi pendidikan pada jenjang berikutnya hingga memasuki dunia kerja. "Takutnya kalau gampangke itu memengaruhi daya kritis anak," ujarnya. (cr2/eno)
Editor : Sevtia Eka Nova