DLH Bantul Memanfaatkan Momentum WCD 2026, Ini yang Dilakukan

Aris Romadhon • Dipublikasikan Selasa, 13 Oktober 2026 | 06:00 WIB
TANGGUNG JAWAB BERSAMA: sejumlah pegawai OPD, anggota TNI, Polri, dan stakeholder membersihkan sampah di Pasar Imogiri, Jumat (25/9). Aris Romadhon/Radar Jogja
TANGGUNG JAWAB BERSAMA: sejumlah pegawai OPD, anggota TNI, Polri, dan stakeholder membersihkan sampah di Pasar Imogiri, Jumat (25/9). Aris Romadhon/Radar Jogja

 

BANTUL - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bantul tak henti-hentinya memperkuat pembenahan tata kelola sampah dari hulu hingga hilir. Seperti yang dilakukan DLH memanfaatkan momentum World Cleanup Day (WCD) 2026 di Pasar Imogiri.


Kepala DLH Kabupaten Bantul Bambang Purwadi Nugroho mengungkapkan, pemilihan Pasar Imogiri sebagai lokasi WCD 2026 lantaran bagian dari upaya mendorong perubahan pola pengelolaan sampah.


”Pasar ini sangat strategis. Di sini banyak kegiatan ekonomi untuk kesehatan masyarakat, kemudian menjadi pusat berkumpulnya orang-orang,” ujar Bambang di sela peringatan WCD 2026 di Pasar Imogiri, Jumat (25/9).

Baca Juga: Coffee Street di Jalan PJKA Sleman Makin Diminati, Dishub Siapkan Parkir Khusus di Taman DLH


WCD 2026 mengusung tema Dari Piring Bersih Menuju Kota Bersih. Tema tersebut sekaligus diarahkan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pengurangan sampah, termasuk persoalan pemborosan pangan.


Acara WCD 2026 melibatkan sekitar 250 orang. Mereka dari berbagai unsur. Seperti perwakilan organisasi perangkat daerah (OPD), TNI, Polri, serta stakeholder Pasar Imogiri.


Bambang berharap kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi aksi bersih-bersih, tapi mampu membangun kesadaran masyarakat terhadap persoalan sampah sekaligus memperkuat kolaborasi dalam pengelolaan lingkungan.
”Ini menjadi momentum mempersiapkan masyarakat Bantul menghadapi masa transisi menuju pengolahan sampah modern yang lebih ramah lingkungan,” katanya.

Baca Juga: Waspada Gelombang Laut, Pemancing di Pesisir Gunungkidul Diimbau Tak Memaksakan Diri


Menurutnya, Pemkab Bantul terus berupaya mendorong agar pengelolaan sampah diselesaikan sejak dari sumbernya. Pemilahan dan pengurangan sampah di kawasan penghasil sampah dinilai dapat mengurangi beban pengolahan di tingkat akhir.


Bambang mengungkapkan, potensi sampah yang dihasilkan di Kabupaten Bantul mencapai sekitar 400 ton per hari. "Untuk saat ini di masa transisi kami hanya bisa menangani 100an ton per hari,” sebutnya.


Menurutnya, sampah merupakan persoalan yang akan terus berkembang seiring meningkatnya aktivitas masyarakat. Karena itu, sistem pengelolaan harus dibangun secara terhubung dari hulu hingga hilir.


Untuk meningkatkan kapasitas pengelolaan, DLH Bantul saat ini mengoptimalkan fasilitas pengolahan sampah yang telah tersedia, termasuk tempat pengolahan sampah terpadu (TPST) dan tempat pengolahan sampah reduce, reuse, recycle (TPS3R). Ia menilai keberadaan fasilitas tersebut tidak akan berjalan optimal jika kawasan penghasil sampah tidak melakukan pemilahan sejak awal.


Karena itu, sampah yang terkumpul dari kegiatan WCD di Pasar Imogiri, misalnya, akan dibawa ke TPST untuk diolah. Salah satu hasil pengolahan tersebut berupa mengubah sampah menjadi energi yang dapat didaur ulang atau refuse derived fuel (RDF), kemudian dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar pengganti.

Baca Juga: DLH Bantul Ambil Sampel Air, Tunggu Uji Lab: Setelah Viral Dugaan Aliran Limbah di Pantai Cangkring


Pemilihan Pasar Imogiri juga berkaitan dengan upaya Pemkab Bantul mendorong pasar menjadi kawasan yang bersih dan sehat. Ia menyebut, pengelolaan sampah di pasar tersebut telah mulai dilakukan melalui pemilahan sampah organik dan anorganik.


Terkait pengelolaan sampah organik juga dilakukan dalam skala terbatas di kawasan pasar untuk mengurangi sampah yang harus dibawa keluar.


Pemkab Bantul melalui DLH akan terus menyiapkan sarana dan prasarana pengelolaan sampah. Namun, Bambang, menegaskan teknologi dan fasilitas pengolahan tetap harus diikuti perubahan perilaku masyarakat.

Baca Juga: 550 Geobag Bukan Solusi Akhir untuk Tanggul Sungai Lukulo Kritis, Masih Butuh Penanganan Lanjutan


“Bagaimanapun teknologi penanganan sampah tinggi, tetap lakukan pilah dan kelola sampah di sumber. Itu yang paling efisien, efektif,” ujarnya.


Terpisah, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Kabupaten Bantul Fenty Yusdayati menyampaikan, Pasar Imogiri perlu menjadi contoh bagi pasar-pasar lain karena merupakan salah satu pasar milik Pemkab Bantul yang telah memenuhi standar nasional Indonesia (SNI).


“Pasar Imogiri punya area yang luas, untuk mengolah sampah juga ada. Tolong dijaga dari hulu ke hilir,” katanya.


Ia meminta pengelola pasar dan para pedagang konsisten melakukan pemilahan sampah sejak dari sumber. Sampah organik dan anorganik harus dipisahkan sehingga pengambilan dapat dilakukan sesuai jenisnya.


“Kalau sampah dipilah, nanti langsung resik, tidak numpuk, tidak bau di pojok pasar. Jadi ini untuk kita semua, pasar resik, sehat, pengunjungnya nyaman,” ujarnya. (cr2/zam)

Editor : Sevtia Eka Novarita
Sumber : Radar Jogja
Acara WCD 2026 DLH Kabupaten Bantul Pasar Imogiri Pemkab Bantul pengelolaan sampah